Doeloe, kenyamanan beribadah dan mencari ilmu (khususnya agama) hampir tidak terganggu. Terlebih kalau sudah masuk senja, hanya mengandalkan lampu tempel (yang minyaknya sangat dihemat-hemat), tapi semangat anak-anak kecil untuk mencari ilmu kepada seorang yang dianggap mumpuni keilmuannya sangatlah besar. Bahkan semangat yang besar itu seakan menjadi kobaran api yang mengalahkan kobaran obor yang dibawa mereka saat mencari ilmu. Karena buat mereka, menghilangkan kebodohan adalah awal dari kesuksesan. Mereka amat semangat untuk mengaji agama kepada pak kiai, pak ustadz, guru, ajengan dan seterusnya, demi ilmu dan demi kesuksesan dunia akhirat. Tapi ternyata, bukan hanya ilmu yang mereka cari, bukan cuma impian sukses yang mereka harapkan, mereka pun belajar berakhlak yang baik, akhlak al karimah. Betapa mereka amat bergembira bila mencium telapak tangan ibu dan bapaknya ketika berangkat mengaji, lalu mencium telapak tangan gurunya ketika tiba di pengajian. Tidak berani memban...