Skip to main content

MENJADI MUSLIM INDONESIA

ISLAM adalah rahmatan lil ‘alamin. Orang Indonesia dapat menjadi Muslim sejati tanpa harus menanggalkan identitas keindonesiaannya. Kita bisa menjadi Muslim 100 persen tanpa harus memaksakan diri ‘menjadi Arab’, karena “menjadi Muslim” berbeda dengan “menjadi Arab”.
*      Shalat tetap sah meski kita memakai peci hitam dan sarung. Tak usah memaksakan diganti jubah.
*      Jika memang kurma sulit didapat, yakinlah nilai puasa tidak berkurang meski berbuka dengan kolak pisang atau kolang kaling.
*      Jika memang kayu Arab tidak ada, bersiwak dengan pasta gigi pun tidak menghilangkan substansi yang dituju oleh hadits Nabi “La amartuhum bis siwaki ‘inda kullis shalat”.
*      Dan seterusnya.
Para ulama menjelaskan bahwa perbuatan Rasulullah saw dalam kapasitas sebagai manusia biasa atau beliau sebagai ‘orang Arab’ yang memiliki budaya/adat sendiri, tidak selalu wajib kita ikuti. (Di antara mereka, ada Imam Qurafi, seorang fukaha terkemuka Malikiyah yang wafat tahun 684 H, juga Imam Abu Zahrah dan Imam Ibn Asyur dari kalangan kontemporer).  Meski bagi yang hendak menirunya dengan niat ittiba’, insya Allah bernilai pahala.
*      Rasulullah saw biasa tidur siang sejenak (qailulah) pada musim panas, karena tubuh cepat lelah akibat mentari sangat terik dan siang lebih panjang dari malam. Maka Qailulah tidak serta merta jadi sunnah bagi daerah yang iklimnya stabil seperti Indonesia.
*      Beliau saw makan dengan tiga jari karena yang beliau santap adalah roti, makanan pokok orang Arab. Tentu jika yang disantap adalah nasi, tata caranya akan berbeda lagi.
*      Dan seterusnya. Sekali Merdeka Tetap Merdeka.

Wallahu A’lam.

Comments

Popular posts from this blog

Kenyataan Tentang Uang dan Kebahagiaan

“Uang tidak bisa membeli kebahagiaan” merupakan kebenaran yang sering disebutkan. Walaupun pernyataan itu benar, kemiskinan juga tidak akan mampu membeli kebahagiaan. Beberapa orang menjadi sangat kaya, tapi mereka tetap harus berjuang untuk menikmati kehidupan mereka. Di sisi lainnya, orang lain mampu melewati hidup dengan sedikit masalah keuangan hanya karena mereka mampu mengoptimalkan apa yang mereka miliki. Idealnya, Anda harus mencoba untuk menggabungkan antara kemakmuran dan kebahagiaan. Untuk melakukan itu, ada beberapa langkah yang direkomendasikan : 1. Belajar untuk Menghargai Kehidupan Sederhana Tujuan hidup bukan untuk mengakumulasi sebanyak mungkin harta benda dan kekayaan. Kita harus belajar untuk puas dengan apa yang kita miliki dan menghargai keuntungan dari hidup sederhana. Sebagai contoh, Jika kita membereskan kekacauan yang tidak perlu, maka kita akan mendapatkan perasaan yang lega dan bebas. Jika Anda merasa  kebahagiaan  berhubungan langsung de...

Suluk Linglung

Dalam kehidupan tasawuf, seorang yang ingin menyempurnakan dirinya harus melalui beberapa tahap-tahap dalam perjalanan spiritualnya. Dimana tahap paling dasar adalah syari'at, yaitu tahap pelatihan badan agar dicapai kedisiplinan dan kesegaran jasmani. Dalam syari'at hubungan antar manusia dijalin menjadi umat, syariat dimaksudkan untuk membawa  seseorang ke dalam sebuah bangunan kolektif, yang disebut umat, bangunan persaudaraan berdasarkan kepercayaan atau agama yang sama. Begitu juga yang diajarkan dan dilaksanakan oleh  Sunan Kalijaga  di dalam kitab Suluk Linglung, ia sangat menekankan pentingnya menjalankan syari'at Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, termasuk sholat lima waktu, puasa ramadhan, membayar zakat dan menjalankan ibadah haji. Agar dapat menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan sungguh-sungguh (kaffah), baginya harus melalui berbagai tirakat dan perenungan diri yang sungguh-sungguh pula. Dengan begitu manusia akan dapat mengerti...

Antara “Ajaran Islam” dan “Budaya Arab”

Saya perhatikan dengan seksama sepertinya banyak kaum Muslim (juga non-Muslim) yang bingung membedakan antara ajaran Islam dan tradisi atau kebudayaan Arab. Padahal itu gampang sekali segampang mencari “warteg” (Warung Tegal) atau “wardang” (Warung Padang) di Jakarta, atau KFC/McD di Saudi. Tapi baiklah saya beri “clue” sedikit saja, selebihnya silakan Anda belajar sendiri dan membaca sendiri sebanyak-banyaknya buku-buku dan tulisan-tulisan berkualitas biar cakrawala dan wawasan kita semakin mengsamudra, tidak sempit seperti “lubang hidung.” Begini, kalau “ajaran Islam” ya berarti eksklusif dipraktekkan umat Islam saja dong seperti salat wajib yang lima kali sehari itu, puasa wajib yang sebulan itu, haji yang wajib setahun sekali itu, tauhid yang meng-Esa-kan Tuhan itu, dlsb. Meskipun sebetulnya, secara substansial apa yang kemudian “ditahbiskan” sebagai “ajaran Islam” itu juga bukan “eksklusif Islam” karena semua itu berasal dari ajaran-ajaran umat agama sebelumnya, khususnya Ya...