Doeloe,
kenyamanan beribadah dan mencari ilmu (khususnya agama) hampir tidak terganggu.
Terlebih kalau sudah masuk senja, hanya mengandalkan lampu tempel (yang
minyaknya sangat dihemat-hemat), tapi semangat anak-anak kecil untuk mencari
ilmu kepada seorang yang dianggap mumpuni keilmuannya sangatlah besar. Bahkan
semangat yang besar itu seakan menjadi kobaran api yang mengalahkan kobaran
obor yang dibawa mereka saat mencari ilmu. Karena buat mereka, menghilangkan
kebodohan adalah awal dari kesuksesan.
Mereka
amat semangat untuk mengaji agama kepada pak kiai, pak ustadz, guru, ajengan
dan seterusnya, demi ilmu dan demi kesuksesan dunia akhirat. Tapi ternyata,
bukan hanya ilmu yang mereka cari, bukan cuma impian sukses yang mereka
harapkan, mereka pun belajar berakhlak yang baik, akhlak al karimah.
Betapa mereka amat bergembira bila mencium telapak tangan ibu dan bapaknya
ketika berangkat mengaji, lalu mencium telapak tangan gurunya ketika tiba di
pengajian. Tidak berani membantah perkataan orangtua, perintah guru dan
seterusnya.
Sekarang
di zaman twitteriyah dan facebookiyah ini, entah fenomena
apa yang sedang ku saksikan sebenarnya. Ba'da maghrib mereka kaum
muda lebih senang buka facebook, google, yahoo messenger, twitter dan
seterusnya hanya untuk post status, demi mengeluh dan mengadukan
masalah-masalahnya ke semua teman mayanya. Dan yang lebih ironis serta kronis,
yaitu mereka me-repost catatan-catatan keilmuan/keagamaan tanpa pernah
memiliki guru yang membimbing. Mereka sudah merasa sangat pandai dan ‘alim bila
me-repost/share link-linkkeagamaan tersebut atau tulisan keagamaan dari buku
yang dia baca.
Bahwa
mencari ilmu itu sebuah kewajiban bagi muslim adalah benar, tapi belajar kepada
guru untuk mencari ilmu adalah keharusan dalam agama. Belajar tanpa guru, maka
syaithan yang menjadi gurunya, begitu para ulama mengatakan.
Dan
celakanya, mereka anggap internet itu adalah guru yang kompeten dan pakar dalam
agama, akhirnya mereka melupakan dan mengacuhkan kitab-kitab yang dibawakan
oleh para guru dalam sebuah majlis ta'lim. Sehingga pantas jika mereka hanya
memiliki kemampuan knowledge saja tapi tidak memiliki keunggulan
dalam akhlak. Mereka senang menyalahkan perilaku orang lain, gemar menganggap
orang lain itu salah, bahkan mereka berani mengatakan orang lain itu melakukan
perbuatan syirik dan kafir, karena mereka menganggap orang lain itu melakukan
sesuatu yang tidak diajarkan oleh agama. Padahal yang menurut mereka ajaran
agama itu sebenarnya adalah ajaran internet. Mereka faham agama sebatas lisan dan
mata, bukan kandungan dari agama itu sendiri.
Tidak
terlarang mencari pengetahuan dari apapun termasuk dari eyang google
dan sebangsanya, tapi yakinkan apa yang kita lihat dan pelajari itu adalah
sesuatu yang haq dengan bimbingan seorang guru.
Lihatlah
salah satu syarat dalam mencari ilmu, yaitu irsyadul ustadz atau
bimbingan seorang guru. Dan perhatikanlah tujuan dari bi'tsaturrasul,yaitu li
utammima makarimal akhlaq atau menyempurnakan akhlak yang baik.
Comments
Post a Comment