Apa yg terjadi pada MU?
Murnikah "ijtihad" mereka, atau hanya sekedar ingin tampil beda?
Bukankah Persatuan Islam
seharusnya diutamakan di atas segalanya..?
1. Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai
Hasyim Asy'ari itu berkawan. Pernah satu guru, sama-sama ahli fikih dan ahli
hadist.
2. Sepulang dari menuntut ilmu di
Makkah beliau berdua berdakwah sesuai keahlian dan masyarakat yg dihadapi.
3. Kiai Ahmad Dahlan bergerak di
tengah Masyarakat perkotaan dlm hal ini Jogja.
4. Sementara Kiai Hasyim Asy'ari
di masyarakat pedesaan dgn mendirikan pesantren di Jombang.
5. Keduanya adalah Allamah, orang
hebat, mukhlis dan mulia. Rohimahumallah.
6. Keduanya jg punya andil besar
memperjuangkan kemerdekaan dgn upayanya mencerdaskan bangsa lewat pendidikan
dan agama.
7. Kiai Ahmad Dahlan mendirikan
Organisasi Muhammadiyah, Kiai Hasyim Asy'ari dirikan Nahdlatul Ulama.
8. Saat beliau berdua masih
hidup, tata ibadah yg diamalkan masyarakat umumnya sama. Kalaupun ada beda itu
sama sekali tak mengganggu.
9. Contoh, sholat tarawih sama2
20 rokaat. Bahkan Kiai Ahmad Dahlan adalah imam Tarawih 20 rokaat di Masjid
Syuhada Jogjakarta.
10. Yg jg sama talqin mayit di
kuburan, bhkn ziarah kubur dan kirim do'a dalam yasinan dan tahlilan.
11. Sama-sama baca do'a Qunut
sholat shubuh dan sama2 gemar baca sholawat dgn dziba'an.
12. Dua kali khutbah dalam shalat
Ied dan tiga kali takbir "Allahu Akbar" dalam takbiran jg sama.
13. Dan yg paling monumental,
dulu NU dan Muhammadiyah sama2 menggunakan metode ru'yat hilal dlm menetapkan 1
Ramadhan dan 1 Syawal.
14. Semua amaliah di atas
berjalan puluhan tahun dgn damai dan nikmat. Semuanya tertulis dlm kitab
"Fikih Muhammadiyah".
15. Kitab tsb terdiri dari 3
jilid yg ditrbitkan oleh Muhammadiyah bagian Taman Pustaka Jogjakarta tahun
1943-an kira2.
16. Namun ktk dibentuknya Majelis
Tarjih disinilah mulai ada penataan praktik ibadah yg rupanya "hrs
beda" dgn apa yg digariskan pendahuluny
17. Hal ini secara otomatis
membuat Muhammadiyah dan NU yg tadinya sama jadi berbeda dlm bnyk hal.
18. Duh, untuk menghemat karakter
yg disediakan untuk slanjutnya Muhammadiyah disingkat MU.
19. Disinyalir "tampil
beda" ini lebih bernuansa politis daripada kesahihan hujjah yg dijadikan
dasar.
20. Ada sebuah tesis yg meneliti
hadist2 yg dijadikan rujukan Majelis Tarjih MU dlm menetapkan hukum atau pola ibadah
yg dipilih.
21. Kesimpulannya setelah uji
takhrij yg hanya berstandar mutawasith (sedang) hadist2 yg dijadikan hujjah
adalah dho'if.
22. Padahal Mayoritas ahli hadist mengatakan,
hadist dho'if tak boleh dijadikan dasar hukum. Kecuali soal fadha'ilul a'mal
(nilai keutamaan
23. Contoh (lagi), btp MU tdk
benar2 memperhatikan derajat hadist yg dijadikan landasan adalah soal Tarawih
yg 4-4-3.
24. Majelis Tarjih memutuskan
jumlah rokaat Tarawih adalah delapan plus 3 rokaat witir.
25. Awal2 instruksi, pakai
komposisi 4-4-3. 4 rokaat satu salam, 4 rokaat satu salam plus 3 rokaat satu
salam.
26. Model Witir 3 rokaat
sekaligus ini model Madzhab Hanafi. Smentara NU pakai dua dua semua trmasuk
witir 2 plus satu. Ini Syafiie.
27. Tapi pd thn 1987 komposisi yg
4-4-3 td diubah menjadi dua dua atas saran KH Shiddiq Abbas pd halaqah di Sby.
28. Beliau berdasar pd Hadist
Muslim yg lebih shahih. Maka melihat kenyataan dmikian semuanya tunduk/taslim.
29. Akibatnya pd thn itu jg
diedarkan keputusan Majelis Tarjih ke semua wilayah tentang perubahan komposisi
Tarawih tsb.
30. Dan itu berlaku sampai sekarang. Meski
masih ada anggota MU yg masih bertahan dgn 4-4-3.
31. Sekarang mari kita beralih ke soal itsbat
hilal pakai ru'yat. Yg lagi hangat2nya :)
32. Semua ahli Falak, apalagi
dari MU pasti tdk pernah lupa bhw dulu MU pakai metode ru'yat bukan hisab spt
saat ini.
33. Bahkan patokan ru'yat hilal
mrk cukup tinggi yakni 3 derajat. Ini berlangsung selama era orde baru.
34. Departemen agama era orba
didominasi oleh orang2 MU, mrk menolak ru'yat Hilal di bawah 3 derajat.
34. Dan selama era orba, ru'yat
hilal 3 derajat atau lebih inilah yg selalu dipakai patokan oleh pemerintah
dalam itsbatnya.
35. Sementara ahli falak NU yg jg menggunakan
Ru'yat memandang posisi hilal 2 drajat sdh bisa untuk diru'yat.
36. Padahal dalam hal ini MU dan NU berdalil
pada hadist yg sama yaitu hadist ru'yat dan ikmal.
37. Krn itulah di thn 90an tiga
kali berturut2 NU lebaran lebih dulu, krn hilal 2 drajat nyata2 sdh bisa
diru'yat.
38. Smentara pemerintah yg didominasi org2 MU
hanya gunakan standar hilal tinggi sehingga hrs istikmal.
39. MU + Pemerintah dan NU, masing2 bertahan
pada pendiriannya.
40. Setelah orba lengser dan Gus Dur jd
presiden, MU dgn radikal meninggalkan cara ru'yat hilal berderajat tinggi. Lalu
dimunculkan metode w
41. Lalu dimunculkan metode wujudul hilal,
pokoknya jk hilal sdh muncul di atas ufuk brapapun drajatnya, nol koma
sekalipun itu sdh tgl 1.
42. Hadist yg dulu jd hujjah dan ayat seruan
untuk "taat kpd Allah, Rasul dan Ulil Amri" menjadi ditafsir ulang.
43. Bahkan dgn lantang Bpk Din Samsudin
mengatakan, Menteri agama bukanlah Ulil Amri yg wajib ditaati.
44. Bhkn yg info mutakhir MU lapor ke Komnas
HAM lantaran Menag mengatakan MU tdk taat kpd pemerintah.
45. Di sini MU membuat beda lagi dgn NU. Dulu
hilal harus derajat tinggi, skrg kriterianya diubah lagi yg pnting muncul
brpapun drajatnya.
46. Sementara NU tetap konsisten
dari dulu sampai skrg, dgn standar minimum 2 drajat. Tentu beda lagi dgn NU.
47. Dilihat dari fakta2 tsb di atas tentu
twips bisa menyimpulkan siapa yg sengaja beda dan siapa yg enggan dipersatukan.
48. Sekaligus fakta2 tsb diatas
seakan membenarkan sinyalemen bhw perbedaan sengaja dibuat krn alasan2 politis.
Wallahu A'lam bi showabih.
Comments
Post a Comment