Skip to main content

Posts

Ketika Fatwa Wahhab Bergandeng Mesra dengan Misi Zionis

Beberapa tahun yang lalu ketika usiaku masih belasan tahun dan sedang mengenyam pendidikan di sebuah Pesantren, aku mendapati selebaran yang berisi peringatan terhadap kaum Muslimin untuk mewaspadai misi Zionis, diantara yang aku ingat adalah : 1.           Pisahkan umat Islam dari ulamanya 2.           Pisahkan umat Islam dari Nabinya 3.           Pisahkan umat Islam dari kitab sucinya (Al-Quran ) 4.           Pecah belah dan hancurkan! Beberapa tahun setelah aku kembali ke kampung, aku dapati fenomena Salafi Wahabi. Dan ketika aku mencermati dogma (ajaran) serta cara mereka “berdakwah” (menyampaikan ajarannya), timbul kecurigaan kuat mereka adalah kaki tangan Zionis. Kecurigaanku bukan tanpa alasan, berikut mari bersama kita cermati secara kritis dengan fikiran dan hati yang jernih tentang bebe...

JANGAN GAGAL PAHAM

Al-Quran sebagai sumber utama Agama Islam memuat tiga ajaran.  Pertama, ajaran akidah , yaitu sejumlah ajaran yang berkaitan dengan apa yang wajib diyakini oleh mukallaf menyangkut eksistensi Allah, malaikat, para utusan, kitab-kitab Allah, dan hari pembalasan.  Kedua, ajaran akhlak/tasawuf , yaitu ajaran yang berintikan takhalli dan tah alli, yakni membersihkan jiwa dan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat terpuji. Ketiga, ajaran syariat, yaitu aturan-aturan praktis (al-ahkam al-‘amaliyah) yang mengatur perilaku dan tingkah laku mukallaf, mulai dari peribadatan, pernikahan, transaksi, dan seterusnya. Yang pertama dan kedua sifatnya universal dan statis, tidak mengalami perubahan di manapun dan kapanpun. Tentang keimanan kepada Allah dan hari akhir tidak berbeda antara orang dahulu dan sekarang, antara orang-orang benua Amerika dengan benua Asia. Demikian juga, bahwa keikhlasan dan kejujuran adalah prinsip yang harus dipertahankan, tidak berbeda an...

Sayid Muhammad Alwi al-Maliki..... Bahaya Takfirisme.

Telah banyak orang keliru—semoga Allah membenahi—dalam memahami kausal atau hakikat sebab yang menjadikan seseorang keluar dari lingkup Islam sehingga layak di vonis kafir. Di sisi lain, banyak pula pihak yang dengan mudah memasang identitas kafir pada sesama Muslim hanya tersebab perbedaan paham. Ini jika berlarut-larut akan terjebak meminoritaskan umat Islam. Kami memohon maaf pada mereka, izinkanlah kiranya, boleh jadi niat mereka itu baik, yakni demi merealisir amar ma’ruf dan nahi ‘anil munkar, namun mereka lupa aktivitas itu wajib disampaikan dengan penuh hikmah kebijaksanaan, disertai advis-advis yang landai. Kemudian jika menjurus pada polemik, hendaklah dilaksanakan dengan metode yang terbaik, sesuai firman Allah, “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik ” (Q.S. an-Nahl: 125). Inilah kiranya metode yang lebih cepat diterima, lebih cepat berhasil untuk menyadarka...

Ideologi Wahabi Picu Demam Atheis di Timur Tengah

Arab Saudi adalah pusat sejarah Islam dunia. Namun, akhir-akhir ini bermunculan orang-orang yang mengaku diri atheis, tidak percaya pada Tuhan dan juga tidak mau beragama. Trend ini adalah sebuah perubahan pola pikir dari sebagian kalangan masyarakat Arab. Kejadian ini mengejutkan, namun terkesan logis. Betapa pandangan tentang agama yang ekstrim dan sebaliknya sikap ekstrim kepada keberagaman agama bisa meningkatkan jumlah atheisme di kalangan para klerik dan orang-orang yang serius menekuni agama. Begitu mudah ungkapan mengkafirkan dari satu sekte dan golongan di Timur Tengah, bahkan di antara mereka terlibat konflik fisik yang menelan jiwa, pada akhirnya simptom begitu enteng dengan kata “kafir”, seolah bukan lagi menjadi hal penting dan berat. Dan dari kondisi macam ini, yang memicu munculnya demam atheisme. Desember lalu (2014), Dar Al Ifta, lembaga yang berbasis di Kairo membuat jajak pendapat jumlah atheis di Mesir yang jumlahnya ternyata tercatat 866 orang. Jajak p...

Pantaskah Membanggakan Syaikh Nasiruddin al-Albani?

Syaikh Nasiruddin al-Albani Layakkah Disebut Muhaddits?  Beberapa tahun belakangan banyak kitab, buku, artikel, atau postingan di internet yang memuat kalimat : “ disahihkan oleh Syaikh Al-Albani ”. Selama ini orang setidaknya hanya mengenal seperti : diriwayatkan oleh Syaikhon (Imam Bukhari dan Imam Muslim) atau diriwayatkan oleh Imam Bukhari, sahih Bukhari, sahih Muslim dan yang semisalnya dari Imam2 Muhaddits yang mu’tabar (kredibel). Dengan munculnya seorang yang dianggap sebagai ahli hadits abad ini, kini muncul istilah baru yang jadi icon dan ‘jaminan mutu’ , apabila sebuah hadits sudah dapat stempel : disahihkan oleh Al-Albani. Ada juga dari golongan Salafi ini berkata bahwa al-Albani sederajad dengan Imam Bukhori pada zamannya. Sehingga semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan dan sebagainya, oleh beliau ini, sudah pasti lebih mendekati kebenaran. Buat ulama-ulama madzhab sunnah selain madzhab Wahabi, julukan dan puji...

Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya: Pertama , at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143). Kedua  at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli  (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT: لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا ...

MENGAPA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MEMILIKI 9 ISTRI?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  menikah dengan sembilan wanita . Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari poligami beliau ini. Pertama, beliau tidak menikahi wanita-wanita yang masih gadis, padahal beliau mampu untuk melakukannya. Gadis yang beliau nikahi hanya satu orang saja (Aisyah). Sebagian istri beliau adalah janda-janda yang telah memiliki anak, seperti Ummu Salamah, Khodijah, yang lain adalah janda seperti Hafshah, Zainab, dll. Tujuan beliau menikahi ummahatul mukminin tersebut bukan untuk mencari kepuasan, kalau tujuannya mencari kepuasan pastilah beliau menikahi para gadis. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau menikahi banyak wanita agar sunnah-sunnah yang tidak tampak kecuali di rumah, bisa diriwayatkan secara utuh. Istri-istri beliau berperan dalam meriwayatkan sunnah-sunnah beliau saat di rumah dan para sahabat meriwayatkan sunnah-sunnah beliau ketika di luar rumah. Seandainya beliau hanya beristrikan empat wa...