Skip to main content

Keseimbangan Kata Dalam Al-Qur’an

 Al-Qur’an banyak mengajarkan tentang konsep keseimbangan dalam kehidupan ini. Seperti keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan dunia dan akhirat, tidak seperti beberapa ajaran lain yg hanya mengutamakan pemenuhan kebutuhan akhirat saja atau malah hanya pemenuhan kebutuhan dunia saja. Al-Qur’an juga mengajarkan keseimbangan dalam hubungan antara manusia dg Tuhan dan manusia dg sesamanya, tidak hanya dg Tuhan saja ataupun hanya dg sesamanya saja. Konsep ibadahpun juga diajarkan untuk dilakukan secara seimbang antara ibadah rohani dan ibadah jasmani, dll. Yang mana semua itu bila manusia tidak melakukannya secara seimbang dapat mengakibatkan ketimpangan-ketimpangan yg dapat berpengaruh tidak baik dalam kehidupannya. Banyak hal di alam semesta ini juga berjalan dg konsep keseimbangan, yg jika keseimbangan itu terganggu maka bisa berakibat terganggunya pula keserasian alam semesta ini.
Konsep keseimbangan ini ternyata juga dilukiskan dalam Al-Qur’an secara menakjubkan dalam susunan kata yang dipakai pada ayat-ayat di dalamnya seperti menurut Dr. Tariq As-Swaidan dan yg tertulis di buku Al I’jas Al Adabiy li Al Quran Al Karim karya Abdurrazaq Nawfal yg diungkapkan oleh Dr. M. Quraish shihab dalam bukunya “Membumikan Al-Qur’an”, yg berupa keseimbangan penggunaan kata dalam ayat2 Al-Qur’an yg kini telah dapat diungkapkan. Mungkin juga ini tidak lepas dari adanya teknologi modern seperti pemakaian sistem database dalam Al-Qur’an digital.

Beberapa contoh dari keseimbangan penggunaan kata tersebut adalah:

1. Keseimbangan kata yg bertolak belakang
 al-Hayâh (hidup) dan al-Mawt (mati), masing-masing disebut 145 kali
an-Naf’(manfaat) dan al-Madharrat (mudarat) masing-masing disebut 50 kali
al-Harr(panas) dan al-Bard masing-masing disebut 4 kali
as-Shâlihât (kebajikan) dan as-Sayyi’ât (keburukan) masing-masing disebut 167 kali
at-Tuma’ninah (kelapangan/ketenangan) dan adh-Dhayq (kesempitan/kekesalan), masing-masing disebut 13 kali
ar-Rahbah (cemas/takut) dan ar-raghbah (harap/ingin) masing-masing disebut 8 kali
al-Kufr (kekufuran) dan al-îmân (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing disebut 8 kali
ash-Shayf(musim panas) dan asy-Syitâ’ (musim dingin) masing-masing disebut 1 kali
ad-Dunyâdisebut 115 kali dan al-âkhirat disebut 115 kali
Malâ’ikat disebut 88 kali danasy-Syaythân juga disebut 88 kali
Penderitaan disebut 114 kali dan kesabaran juga disebut 114 kali

2. Keseimbangan jumlah kata dengan sinonimnya (dua kata yg artinya sama)
 al-harts dan az-Zirâ’ah (membajak/bertani) masing-masing disebut 14 kali
al-uhb dan adh-Dhurur (membanggakan diri/angkuh) masing-masing disebut 27 kali
al-‘Aql dan an-Nûr (akal dan cahaya) masing-masing disebut 49 kali
al-Jahr dan al-‘Alaniyah (nyata), masing-masing disebut 16 kali
Zakat disebut 32 kali dan Barokah juga disebut 32 kali

3. Keseimbangan antara jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya
 al-Infaq (infak) dengan ar-Ridhâ (kerelaan), masing-masing disebut 73 kali.
al-Bukhl (kekifiran) dengan al-Hasanah (penyesalan) masing-masing disebut 12 kali
al-Kâfirûn (orang2 kafir) dengan an-Nar/al-Ahraq (neraka/pembayaran) masing-masing disebut 154 kali
az-Zakâh (zakat/penyucian) dg al-Barâkat (kebajikan yg banyak) masing-masing disebut 32 kali
al-Fâhisyah (kekejian) dengan al-Ghadb (murka), masing-masing disebut 26 kali

4. Keseimbangan jumlah kata dengan kata penyebabnya
 al-Isrâf (pemborosan) dengan as-Sur’ah (ketergesa-gesaan) masing-masing disebut 23 kali
al-Maw’izhah (nasihat/petuah) dengan al-Lisân (lidah), masing-masing disebut 25 kali
al-Asrâ (tawanan) dengan al-Harb (perang) masing-masing disebut 6 kali
as-Salâm (kedamaian) dan at-Thayyibât (kebijakan) masing-masing disebut 60 kali

5. Keseimbangan khusus
 Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal disebut sejumlah 365 kali sebanyak hari-hari dalam setahun
Kata hari yg menunjuk pada bentuk plural (ayyâm) atau dua (yawmayni) jumlah keseluruhannya hanya 30 kali, sama dg jumlah hari dalam sebulan
Kata yg berarti “bulan” (syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dg jumlah bulan dalam setahun
Kata yg menunjuk pada utusan Tuhan, baik rasûl (rasul), atau nabiy(nabi), ataubasyir (pembawa berita gembira), atau nadzîr (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama2 nabi, rasul, dan pembawa berita tsb, yakni 518 kali.

S u b h a n a l l a h !

Comments

Popular posts from this blog

Suluk Linglung

Dalam kehidupan tasawuf, seorang yang ingin menyempurnakan dirinya harus melalui beberapa tahap-tahap dalam perjalanan spiritualnya. Dimana tahap paling dasar adalah syari'at, yaitu tahap pelatihan badan agar dicapai kedisiplinan dan kesegaran jasmani. Dalam syari'at hubungan antar manusia dijalin menjadi umat, syariat dimaksudkan untuk membawa  seseorang ke dalam sebuah bangunan kolektif, yang disebut umat, bangunan persaudaraan berdasarkan kepercayaan atau agama yang sama. Begitu juga yang diajarkan dan dilaksanakan oleh  Sunan Kalijaga  di dalam kitab Suluk Linglung, ia sangat menekankan pentingnya menjalankan syari'at Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, termasuk sholat lima waktu, puasa ramadhan, membayar zakat dan menjalankan ibadah haji. Agar dapat menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan sungguh-sungguh (kaffah), baginya harus melalui berbagai tirakat dan perenungan diri yang sungguh-sungguh pula. Dengan begitu manusia akan dapat mengerti...

10 Mutiara yang akan diambil Jibril as.

رُوِىَ أَنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ نَزَلَ عَلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فىِ مَرَضِ مَوْتِهِ فَقاَلَ ياَجِبْرِيْلُ هَلْ تَنْزِلُ مِنْ بَعْدِى , فَقاَلَ نَعَمْ ياَرَسُوْلَ اللهِ أَنْزِلُ عَشْرَ مَرَّاتٍ أَرْفَعُ العَشْرَ الجَواَهِرِ مِنَ الأَرْضِ قاَلَ ياَ جِبْرَيْلُ وَماَتَرْفَعُ مِنْهاَ , قاَلَ , (الأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِنَ الأَرْضِ (وَالثَّانىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِنْ قُلُوْبِ الخَلْقِ (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِنْ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ (وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِنَ الأُمَراَءِ (وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَياَءَ مِنَ النِّساَءِ (وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِنَ الفُقَراَءِ (وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِنَ العُلَماَءِ (وَالثَّامِنُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِنَ الأَغْنِياَءِ (وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآنَ (وَالعاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِيْماَنَ Ketika Rasulullah dalam keadaan sakit yg menghantarkan belaiu wafat, malaikat Jibril datang menemuinya. Setelah berbincang sejenak Rasulullah bertanya kepada Jibril...

Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya: Pertama , at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143). Kedua  at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli  (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT: لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا ...