Kita
selalu menghadapi masalah setiap hari yang semuanya itu harus dipecahkan secara
arif dan bijaksana. Adalah tidak arif jika kita menghindari masalah, sebab jika
menghindar dari satu masalah maka di tempat lain juga akan timbul masalah. Oleh
karenanya, masalah harus dihadapi dan dipecahkan agar tidak timbul masalah lain
yang berkepanjangan.
Dalam
menghadapi masalah hidup, manusia sering dihadapkan kepada jalan buntu yang
bisa membuat manusia itu putus asa dan mengambil jalan pendek. Untuk menghadapi
masalah hidup yang terus menerus menerpanya dan agar manusia bisa bertahan
dalam menghadapi semuanya, maka manusia membutuhkan pertolongan dari luar
manusia. Ya ketika manusia menemui jalan buntu, maka ia menyadari kelemahan dan
keterbatasannya. Untuk itu, manusia mencari kekuatan di luar dirinya yang
dianggapnya mampu membantu memecahkan problema yang dihadapinya dan agar mampu
bersabar dan bertahan. Manusia membutuhkan tempat bergantung. Manusia butuh
tempat untuk menghambakan diri agar dirinya mampu menghadapi semua problema
hidup yang terus menerus menerpanya dan siap menghancurkannya.
Oleh
sebab itu manusia berusaha mencari kekuatan itu. Nyatanya dalam mencari sesuatu
itu manusia sering tersesat. Hal ini sangat wajar karena manusia tidak mampu
menembus dinding-dinding gaib. Untuk itu, manusia harus memperoleh informasi
itu langsung dari Yang Maha Tahu. Informasi itu sudah disampaikan oleh Yang
Maha Tahu kepada manusia melalui wahyu yang disampaikan oleh utusan-Nya.
Melalui utusan-Nya itulah disampaikan siapa sesungguhnya Tuhan semesta alam
yang layak sebagai tempat bergantung semua makhluk ciptaan-Nya. Manusia
diberitahu apa sesungguhnya tujuan hidupnya. Kepada-Nya lah manusia harus
bergantung dan menghambakan dirinya. Dzat Yang Maha Kuasa itu adalah Allah swt.
Berikut
ayat-ayat Al Qur’an yang memperkuat bahwa ibadah yang kita lakukan itu adalah
untuk diri kita sendiri.
“Hai
manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya
(tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir [35]: 15)
“Dan
barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)
dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha
Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml [27]: 40)
“Katakanlah:
“Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari
Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya
(petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka
sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah
seorang penjaga terhadap dirimu.” (QS. Yunus [10]: 108)
“Dan
Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya
mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji.” (QS. Ibrahim [14]: 8)
“Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (saja).
Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki
supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki
Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS. Adz Dzariat: 56-58)
“Jika
kamu berbuat baik, kebaikan itu bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat
jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. Al Isra: 7)
Jadi
jelaslah bahwa menghambakan diri itu kebutuhan manusia. Oleh sebab itu manusia
itu butuh beribadah kepada Allah, bukan sebaliknya. Allah tidak butuh ibadah
kita, tetapi kita butuh beribadah kepada Allah. Dengan beribadah kepada Allah
hati menjadi tenang dan siap menghadapi tantangan. Manusia yang demikian itu
sudah mantap siapa yang dapat dijadikan tempat bergantung, tempat mengadu,
tempat mohon pertolongan dan kepadaNya mereka seharusnya menghambakan diri.
Ibadah
juga sebagai ungkapan rasa terima kasih (syukur) kepada Allah atas segala
karunia-Nya. Bukankah kita wajib berterima kasih ketika seseorang memberikan
pertolongan? Bukankah kita tidak boleh melupakan pertolongan orang lain?
Demikian pula halnya, sebagai manusia wajib mengungkapkan terima kasihnya
kepada sang Pencipta. Bagaimana kita tidak bersyukur, padahal kita sudah
diciptakan sebagai manusia — makhluk yang terbaik yang diciptakan Allah–. Jadi
diciptakan sebagai manusia saja itu sudah cukup bagi kita untuk bersyukur.
Apalagi juga kita dikaruniai fisik yang normal dan rezeki lainnya yang tak
terhingga. Kita pasti tidak bisa menghitung nikmat Allah kepada kita.
Sesungguhnya bersyukur itu adalah untuk diri kita sendiri pula sebagaimana yang
difirmankan Allah swt sbb:
“Dan
barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk
dirinya sendiri” (QS. Luqman: 7)
Yah
kalau begitu kita butuh beribadah kepada Allah, bukan Allah yang butuh ibadah
kita. Jika semua manusia beribadah itu tidak akan menambah kemuliaan Allah dan
jika semua manusia tidak beribadah itu juga tidak akan mengurangi kemuliaan
Allah. Kita harus menyadari hal ini. Jika kita bersyukur, Allah adalah Maha
Bersyukur. Allah akan menambah nikmat-Nya kepada kita semua. Alangkah Maha
Mulia Allah. Layakkah kita ingkar kepada-Nya, dengan menyembah selain-Nya?
Jelas itu hanya merugikan diri sendiri.
Allah
subhaanahu wa ta’aala pun berfirman dalam hadis qudsi:
“Wahai
hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal samapi yang
paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun
tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari
yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling
bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku” (HR. Muslim, no.2577)


Comments
Post a Comment