Skip to main content

IBADAH BUAT SIAPA?

Kita selalu menghadapi masalah setiap hari yang semuanya itu harus dipecahkan secara arif dan bijaksana. Adalah tidak arif jika kita menghindari masalah, sebab jika menghindar dari satu masalah maka di tempat lain juga akan timbul masalah. Oleh karenanya, masalah harus dihadapi dan dipecahkan agar tidak timbul masalah lain yang berkepanjangan.
Dalam menghadapi masalah hidup, manusia sering dihadapkan kepada jalan buntu yang bisa membuat manusia itu putus asa dan mengambil jalan pendek. Untuk menghadapi masalah hidup yang terus menerus menerpanya dan agar manusia bisa bertahan dalam menghadapi semuanya, maka manusia membutuhkan pertolongan dari luar manusia. Ya ketika manusia menemui jalan buntu, maka ia menyadari kelemahan dan keterbatasannya. Untuk itu, manusia mencari kekuatan di luar dirinya yang dianggapnya mampu membantu memecahkan problema yang dihadapinya dan agar mampu bersabar dan bertahan. Manusia membutuhkan tempat bergantung. Manusia butuh tempat untuk menghambakan diri agar dirinya mampu menghadapi semua problema hidup yang terus menerus menerpanya dan siap menghancurkannya.
Oleh sebab itu manusia berusaha mencari kekuatan itu. Nyatanya dalam mencari sesuatu itu manusia sering tersesat. Hal ini sangat wajar karena manusia tidak mampu menembus dinding-dinding gaib. Untuk itu, manusia harus memperoleh informasi itu langsung dari Yang Maha Tahu. Informasi itu sudah disampaikan oleh Yang Maha Tahu kepada manusia melalui wahyu yang disampaikan oleh utusan-Nya. Melalui utusan-Nya itulah disampaikan siapa sesungguhnya Tuhan semesta alam yang layak sebagai tempat bergantung semua makhluk ciptaan-Nya. Manusia diberitahu apa sesungguhnya tujuan hidupnya. Kepada-Nya lah manusia harus bergantung dan menghambakan dirinya. Dzat Yang Maha Kuasa itu adalah Allah swt.
Berikut ayat-ayat Al Qur’an yang memperkuat bahwa ibadah yang kita lakukan itu adalah untuk diri kita sendiri.
“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir [35]: 15)
“Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml [27]: 40)
“Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (QS. Yunus [10]: 108)
 “Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim [14]: 8)
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (saja). Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS. Adz Dzariat: 56-58)
“Jika kamu berbuat baik, kebaikan itu bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. Al Isra: 7)
Jadi jelaslah bahwa menghambakan diri itu kebutuhan manusia. Oleh sebab itu manusia itu butuh beribadah kepada Allah, bukan sebaliknya. Allah tidak butuh ibadah kita, tetapi kita butuh beribadah kepada Allah. Dengan beribadah kepada Allah hati menjadi tenang dan siap menghadapi tantangan. Manusia yang demikian itu sudah mantap siapa yang dapat dijadikan tempat bergantung, tempat mengadu, tempat mohon pertolongan dan kepadaNya mereka seharusnya menghambakan diri.
Ibadah juga sebagai ungkapan rasa terima kasih (syukur) kepada Allah atas segala karunia-Nya. Bukankah kita wajib berterima kasih ketika seseorang memberikan pertolongan? Bukankah kita tidak boleh melupakan pertolongan orang lain? Demikian pula halnya, sebagai manusia wajib mengungkapkan terima kasihnya kepada sang Pencipta. Bagaimana kita tidak bersyukur, padahal kita sudah diciptakan sebagai manusia — makhluk yang terbaik yang diciptakan Allah–. Jadi diciptakan sebagai manusia saja itu sudah cukup bagi kita untuk bersyukur. Apalagi juga kita dikaruniai fisik yang normal dan rezeki lainnya yang tak terhingga. Kita pasti tidak bisa menghitung nikmat Allah kepada kita. Sesungguhnya bersyukur itu adalah untuk diri kita sendiri pula sebagaimana yang difirmankan Allah swt sbb:
“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri” (QS. Luqman: 7)
Yah kalau begitu kita butuh beribadah kepada Allah, bukan Allah yang butuh ibadah kita. Jika semua manusia beribadah itu tidak akan menambah kemuliaan Allah dan jika semua manusia tidak beribadah itu juga tidak akan mengurangi kemuliaan Allah. Kita harus menyadari hal ini. Jika kita bersyukur, Allah adalah Maha Bersyukur. Allah akan menambah nikmat-Nya kepada kita semua. Alangkah Maha Mulia Allah. Layakkah kita ingkar kepada-Nya, dengan menyembah selain-Nya? Jelas itu hanya merugikan diri sendiri.
Allah subhaanahu wa ta’aala pun berfirman dalam hadis qudsi:
“Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal samapi yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku” (HR. Muslim, no.2577)

Comments

Popular posts from this blog

Suluk Linglung

Dalam kehidupan tasawuf, seorang yang ingin menyempurnakan dirinya harus melalui beberapa tahap-tahap dalam perjalanan spiritualnya. Dimana tahap paling dasar adalah syari'at, yaitu tahap pelatihan badan agar dicapai kedisiplinan dan kesegaran jasmani. Dalam syari'at hubungan antar manusia dijalin menjadi umat, syariat dimaksudkan untuk membawa  seseorang ke dalam sebuah bangunan kolektif, yang disebut umat, bangunan persaudaraan berdasarkan kepercayaan atau agama yang sama. Begitu juga yang diajarkan dan dilaksanakan oleh  Sunan Kalijaga  di dalam kitab Suluk Linglung, ia sangat menekankan pentingnya menjalankan syari'at Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, termasuk sholat lima waktu, puasa ramadhan, membayar zakat dan menjalankan ibadah haji. Agar dapat menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan sungguh-sungguh (kaffah), baginya harus melalui berbagai tirakat dan perenungan diri yang sungguh-sungguh pula. Dengan begitu manusia akan dapat mengerti...

10 Mutiara yang akan diambil Jibril as.

رُوِىَ أَنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ نَزَلَ عَلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فىِ مَرَضِ مَوْتِهِ فَقاَلَ ياَجِبْرِيْلُ هَلْ تَنْزِلُ مِنْ بَعْدِى , فَقاَلَ نَعَمْ ياَرَسُوْلَ اللهِ أَنْزِلُ عَشْرَ مَرَّاتٍ أَرْفَعُ العَشْرَ الجَواَهِرِ مِنَ الأَرْضِ قاَلَ ياَ جِبْرَيْلُ وَماَتَرْفَعُ مِنْهاَ , قاَلَ , (الأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِنَ الأَرْضِ (وَالثَّانىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِنْ قُلُوْبِ الخَلْقِ (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِنْ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ (وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِنَ الأُمَراَءِ (وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَياَءَ مِنَ النِّساَءِ (وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِنَ الفُقَراَءِ (وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِنَ العُلَماَءِ (وَالثَّامِنُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِنَ الأَغْنِياَءِ (وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآنَ (وَالعاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِيْماَنَ Ketika Rasulullah dalam keadaan sakit yg menghantarkan belaiu wafat, malaikat Jibril datang menemuinya. Setelah berbincang sejenak Rasulullah bertanya kepada Jibril...

Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya: Pertama , at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143). Kedua  at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli  (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT: لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا ...