“Ketika seorang
mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang
mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala,
nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; maka ketika itu; dari pemahaman dan keimanan itu,
akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona’ah. Itulah
sebuah harta kekayaan yang tidak ada habisnya.” Demikian yang disampaikan oleh
Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya “Qona’ah, Kekayaan
Tiada Habisnya.”
Faktor pendukung untuk memiliki sikap qona’ah
“Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia;
ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah
Subhanahu wa Ta'ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; maka ketika itu; dari
pemahaman dan keimanan itu, akan lahirlah karakter mental yang sungguh
berharga, yaitu qona’ah. Itulah sebuah harta kekayaan yang tidak ada habisnya.”
Demikian yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam
bukunya “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya.”
Qona’ah - merasa cukup dengan apa yang ada- sebuah kata yang mudah untuk
diucapkan, namun sulit untuk dipraktikkan. Terlebih di zaman ini, dimana kita
melihat begitu banyak manusia mengalami “kegilaan” terhadap dunia beserta
isinya. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya untuk mewujudkan kekayaan yang
tiada habisnya ini hanya dengan nasihat singkat, “Nak, bersikaplah qona’ah;
kamu akan tenang hidupnya”; atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat
yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan
harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona’ah yang kita baca
pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu
pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Fondasi Sifat Qona’ah
Fondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakinan
yang benar. Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengenal Allah dengan
nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya;
keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir
yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat
dan karakter mental yang sangat mahal harganya ini. Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Allah beserta nama dan
sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan
penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya,
dan hakikat qona’ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.
Keimanan kepada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap
zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh
rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia
paham, bahwa hidup dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, “Apa perluku dengan dunia?
Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara ynag tidur siang sejenak
di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan
meninggalkannya.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi). Hal ini akan menjadikannya bersikap
menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati.
Keimanan terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang
dan ridho terhadap apa yang dialami, suka maupun duka. Hatinya senantiasa
lapang, ia tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya rizki, lemahnya daya,
maupun kemiskinan yang menimpanya.
Inginkah Engkau memiliki harta itu?
Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lainnya, sebagai karakter mental, qona’ah
dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, bertambah dan
berkurangnya iman, serta ketinggian dan kerendahan cita-cita
Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang
mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini:
1. Ilmu agama
Ilmu agama merupakan faktor utama untuk memperoleh harta yang tidak terkira
ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat, dan bahaya jika melalaikan
qona’ah. Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakikat dunia, menyingkap
rahasia-rahasianya, dan bahaya-bahaya terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu
agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian
kita kepada kampung akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi.
“Dan tiadalah kehidupan di dunia ini selain main-main dan sendau gurau. Dan
sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah
kamu memahaminya? (Al-An’am:32)
Dengan ilmu pula kita memperoleh pengetahuan tentang Allah Azza wa ‘Ala dengan
seluruh nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang tinggi. Kebenaran akidah: iman
kepada hari akhir dan iman kepada takdir yang baik maupun buruk, yang hal itu
merupakan pondasi dasar yang memiliki pengaruh sangat besar dalam mewujudkan
sifat qona’ah, semuanya dapat diperoleh dengan ilmu agama.
2. Keimanan yang mantap
Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat
lemahnya sifat qona’ah dalam menghadapi berbagai “fitnah” dunia ini, sesuai
dengan tingkat kekuatan iman yang ada pada setiap kita.
3. Pemahaman yang benar tentang qodho dan qodar
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh
manusia sejak zaman azali.{embagian yang dilakukan oleh Allah Subhanahu wa
Ta'ala merupakan ketetapan berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu-Nya. Jika kita
memahami bahwa ambisi, keluh kesah, dan perhatian kita terhadap dunia dan
harta, tidak akan menambah rizki, (karena tidak mungkin kita bisa mengoreksi
ketetapan dan qodar Allah); pemahaman seperti dapat menumbuhkan sifat qona’ah,
tenang, rileks terhadap keadaan yang diterimanya, apakah kita kaya maupun
miskin.
Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan qodha dan qodar Allah
akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan
hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang
telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang satu terhadap yang
lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita; ujian bagi orang kaya engan
kelebihannya, ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya. Perbedaan antara
orang kaya dengan orang miskin dalam rizki bukan merupakan bukti mengenai
perbedaan kedudukan keduanya di dunia maupun di sisi Allah Azza wa Jalla.
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahamt Tuhanmu? Kami telah menentukan antara
mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan
sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka
dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa
yang mereka kumpulkan.” (Az Zukhruf:32)
“Bersikaplah ridho terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi
manusia yang paling kaya.” (HR.Ahmad)
4. Perjuangan Mental dan Bersabar
Sesuai dengan kebijaksanan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi kita
nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi
rahmat Tuhan.(Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya
terhadap sikap qona’ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya,
ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran,
dan keluh kesah.
“Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang
sebelummu, mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan melanggar
hal-hal yang diharamkan bagi mereka.” (HR.Muslim)
Imam Ibnu Rojab al Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa syuhh adalah ambisi
besar yang mendorong pemilikinya mengambil banyak hal yang tidak halal, tidak
menunaikan kewajiban terhadapnya. Substansi sifat ini adalah kerinduan diri
kepada apa yang diharamkan oelh Allah serta tidak puas dengan yang telah
dihalalkan oelh Alloh, baik menyangkut harta, kemaluan, atau lainnya.
Mengendalikan nafsu dan memaksanya memiliki sikap qona’ah membutuhkan kesabaran
dan ketabahan dari seorang mukmin. Kesabaran di sini berkaitan dengan hal-hal
yang diharamkan dan hal-hal yang meragukan; karena sifat qona’ah menuntut sikap
zuhud, ridho, dan waro’. Sabar dalam ketaatan dan tidak berbuat maksiat.
5. Berdoa dan Memohon kepada Allah
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat,
dan kekayaan.” (HR.Muslim)
Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di rahimahullah, berkata:”Ini merupakan salah
satu doa yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini
mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan di dunia dan akhirat. ‘Afaf
(sikap menjaga martabat) dan ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga
kehormatan di hadapan sesama manusia, tidak menggantungkan diri kepada mereka
dan merasa kaya dengan Alloh, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati
terhadap apa yang ada pada dirinya, serta diperolehnya kecukupan yang bisa
menenangkan hati. Dengan semua itu, sempuralah kebahagiaan hidup di dunia dan
ketenangan batin, dan itulah hayah thoyyibah (kehidupan yang baik).
6. Menjauhi Orang-Orang yang Suka Berkeluh Kesah
Teman, kawan, orang-orang di sekitar kita, sangat besar pengaruhnya pada diri
kita. Siapa yang lama berkawan dengan orang-orang yang suka berkeluh kesah dan
ambisius, maka akan tertimpa penyakit mereka. Hawa nafsu dan akhlak mereka akan
menular kepada dirinya. Sebaliknya, berkawan dengan orang-orang sholih,
senantiasa berdzikir, zuhud (sekalipun mereka adalah orang-orang kaya dan
lapang), akan mendorong kita mengikuti mereka: memiliki sifat qona’ah, zuhud,
menerima dengan senang hati semua rizki yang telah dibagikan oleh Allah.
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang mengikuti agama kawan
dekatnya, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperhatikan siapa yang
menjadi kawan dekatnya.”
7. Melihat yang “di bawah”
“Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua
lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan
Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.” (HR.Bukhari-Muslim)
Manusia, memiliki watak dasar yang mendorongnya utnuk mencintai harta dan dunia.
(terkadang) hal ini menjadikan kita melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah
berikan kepada kita. Bagaimanapun keadaan yang ada pada diri kita, setiap kita
pasti telah dikaruniai nikmat dari Allah yang saking banyaknya tidak mampu kita
inventarisir dan hitung. Bukan hanya telah, tapi semua yang telah dan akan kita
alami adalah nikmat dan karunia Allah yang terkira.
Namun, nikmat dan karunia yang telah Allah berikan secara gratis kepada kita,
terkadang terabaikan. Kita merasa kurang dan kurang… kita tidak peduli dan
tidak menyadari nilainya… Hal ini bisa jadi karena kita selalu melihat
orang-orang yang mendapat nikmat lebih baik dari kita.
Seandainya kita melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, orang-orang
yang ada “dibawah” kita… atau satu atau beberapa nikmat dari Allah dicabut
(misal: nikmat sehat)… baru kita merasakan nikmat-nikmat itu… barulah kita
merasa tenang; oleh karena itu; salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya
sifat qona'ah adalah melihat orang yang keadaannya “dibawah” kita.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Lihatlah kepada siapa yang
lebih rendah dari kalian, jangan melihat kepada siapa yang lebih tinggi dari
kalian; karena itu akan menjadikan kalian tidak menyepelekan nikmat Allah.”
(HR.Bukhori)
Ma'assalaamah...................




Comments
Post a Comment