Skip to main content

SANAD NU

Mata Rantai Sanad Ahlussunnah Wal-Jama'ah di Indonesia
Pengantar
Proses transmisi ajaran-ajaran agama dalam Islam memiliki kekhasan,keunikan dan keistimewaan tersendiri dengan terbangunnya struktur genealogi (sanad) yang kokoh secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Hal ini tidak dimiliki oleh pengikut agama lain, semisal pengikut agama Yahudi dan Nasrani. Umat-umat Yahudi dan Nasrani tidak memiliki sanad yang bersambung tentang ajaran agama mereka dari generasi ke generasi. Berbeda dengan umat Islam, di mana setiap bagian ajaran agamanya selalu memiliki struktur genealogi yang bersambung dari generasi ke generasi.
Ahlussunnah Wal-Jama'ah, sebagai umat Islam yang mengikuti ajaran Islam yang murni dari Nabi saw dan sahabat, memiliki kekhasan, keunikan dan keistimewaan terbaik dalam hal struktur genealogi tersebut, termasuk pula umat Islam Indonesia yang mayoritas Ahlussunnah Wal-Jama'ah dengan madzhab al-Asy'ari dan 'al-Maturidi'. Dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan keislaman seperti ilmu al-Qur'an, ilmu tafsir, hadits, ilmu hadits, teologi, ilmu fiqih, ushul fiqih, gramatika, bahasa dan lain-lain, Ahlussunnah Wal-Jama'ah yang dalam hal ini pengikut madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi, memiliki sanad yang kokoh dan dipercaya dari generasi ke generasi. Bahkan diakui oleh para pakar, bahwa setiap sanad ilmupengetahuan keislaman yang sampai kepada kaum Muslimin dewasa ini pasti mata rantai sanadnya melalui jalur pengikut madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi.
Di Indonesia, transmisi ajaran madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidisejak awal dibangun olehpara penyebar Islam di kepulauan Nusantara ini melalui para ulama yang tergabung dalam organisasi Wali Sanga. Berdasarkan temuan dan catatan para sejarawan, ditegaskan bahwa Wali Sanga dalam hal fiqih mengikuti madzhab al-Syafi'i dan dalam hal teologi mengikuti madzhab al-Asy'ari. Dan sudah barang tentu ajaran-ajaran yang mereka ajarkan, mereka terima dari generasi ulama sebelum mereka dalam struktur genealogiyang kukuh. Namun sayang sekali, struktur genealogi Wali Sanga dari generasi sebelum dan kepada generasi penerusmereka, belum dijumpai dalam bentuk catatan tertulis yang bisa dilacak dan sampai kepada kita. Struktur genealogi ajaran madzhab al-Asy'ari di Indonesia, yang dapat dijumpai secara tertulis dan sampai kepada kita, baru ditemukan pada ulama-ulama abad 19 Masehi, yang secara langsung belajar di Mekkah al-Mukarramah. Di antaranya adalah struktur genealogi keilmuan yang sampai kepada generasi ulama seangkatan Hadlratusysyaikh KH. Mohammad Hasyim Asy'ari, dan para kiai pendiri organisasi Nahdlatul Ulama di TanahAir.
Struktur Genealogi Madzhab al-Asy'ari di Indonesia
1.        Syaikh al-Sunnah, Imam al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Asy'ari (270-330 H/883-947 M).
2.        Syaikh al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Bahili.
3.        Ruknuddin al-Ustadz Abu Ishaq al-Asfarayini (w. 418 H/1027 M). Pengarang al-Jami' fi Ushul al-Din wa al-Radd 'ala al-Mulhidin.
4.        Al-Ustadz Abu al-Qasim Abdul Jabbar bin Ali bin Muhammad bin Haskan al-Asfarayini al-Iskaf (w. 452 H/1034 M).
5.        Imam al-Haramain Dhiyauddin Abu al-Ma'ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M).
6.        Abu al-Qasim Salman bin Nashir bin Imran al-Anshari al-Arghiyani (w. 512 H/1118 M). Pengarang Syarh al-Irsyad ila Qawathi' al-Adillah fi Ushul al-I'tiqad.
7.        Dhiyauddin Umar bin al-Husain al-Razi (hidup sebelum 559 H/1164 M). Pengarang Syarh al-Irsyad ila Qawathi' al-Adillah fi Ushul al-I'tiqad.
8.        Fakhruddin Muhammad bin Umar al-Razi (544-606 H/1150-1210 M).
9.        Syarafuddin Abu Bakar Muhammad bin Muhammad al-Harawi.
10.    Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdullah al-Taftazani.
11.    Al-Hafizh Sirajuddin Umar bin Ali al-Qazwini (683-750 H/1284-1349 M).
12.    Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya'qub al-Lughawi al-Syirazi al-Fairuzabadi (729-817 H/1329-1415 M).
13.    Al-Hafizh Taqiyyuddin Muhammad bin Muhammad bin Fahad al-Makki al-Syafi'i al-'Alawi al-Hasyimi (787-871 H/1385-1466 M).
14.    Syaikh al-Islam, Qadhi al-Qudhat Zainuddin Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari (826-926 H/1423-1520 M). Pengarang Ihkam al-Dilalah 'ala Tahrir al-Risalah dan Fath al-Ilah al-Majid bi-Idhah Syarh al-'Aqaid.
15.    Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M).
16.    Ahmad bin Muhammad al-Ghunaimi (964-1044 H/1557-1634 M).
17.    Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-'Ala' al-Babili al-Syafi'i al-Azhari (1000-1077 H/1591-1666M).
18.    Abdullah bin Salim al-Bashri al-Makki al-Syafi'i (1048-1134 H/1638-1722 M).
19.    Salim bin Abdullah al-Bashri al-Syafi'i (w. 1160 H/1747 M).
20.    Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-Dafari al-Syafi'i (w. setelah 1161 H/ M).
21.    Isa bin Ahmad al-Barawi al-Zubairi al-Syafi'i (w. 1182 H/1768 M). Pengarang Hasyiyah 'ala Syarh Jauharat al-Tauhid karyaal-Laqqani.
22.    Muhammad bin Ali al-Syanawani al-Syafi'i (w. 1233 H/1818 M). Pengarang Hasyiyah 'ala Syarh Jauharat al-Tauhidkarya al-Laqqani.
23.    Utsman bin Hasan al-Dimyathi.
24.    Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M).
25.    Sayid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha al-Dimyathi al-Husaini al-Syafi'i (w. 1310 H/1892 M).
26.    Muhammad Mahfuzh bin Abdullah al-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920M).
27.    Para ulama Tanah Air, seperti KH. Moh. Hasyim Asy'ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur HasanPasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma'shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain.

Struktur Genealogi Madzhab al-Maturidi di Indonesia
1.        Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H/945M).
2.        Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa al-Bazdawi (w. 390 H/1000 M).
3.        Husain bin Abdu Karim al-Bazdawi.
4.        Muhammad bin Husain al-Bazdawi.
5.        Al-Qadhi Shadrul Islam Abu al-Yusr Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Bazdawi (421-493 H/1030-1100 M).
6.        Al-Hafizh Najmuddin Umar bin Muhammad al-Nasafi (461-537 H/1068-1142 M).
7.        Muhammad bin Muhammad bin Nashr al-Nasafi (w. 693 H/1294 M).
8.        Husamuddin Husain bin Ali al-Saghnaqi (w. 711 H/1311 M). Pengarang Syarh al-Tamhid li-Qawa'id al-Tauhid.
9.        Abu Muhammad Abdullah bin Hajjaj al-Kasyqari.
10.    Syamsuddin Muhammad al-Qurasyi.
11.    Al-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqalani (773-852 H/1372-1449 M).
12.    Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari (826-926 H/1423-1520).
13.    Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M).
14.    Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Qusyasyi al-Dajani al-Husaini (991-1071 H/1583-1661 M).
15.    Burhanuddin Abu al-'Irfan al-Mulla Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1025-1101 H/1616-1690M).
16.    Burhanuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Budairi al-Husaini al-Dimyathi al-Asy'ari al-Syafi'i, populer dengan sebutan Ibn al-Mayyit (w. 1131 H/1719 M).
17.    Muhammad bin Muhammad bin Hasan al-Munir al-Samanudi al-Syafi'i (1099-1199 H/1688-1785 M).
18.    Muhammad bin Ali al-Syanawani (w. 1233 H/1818 M).
19.    Utsman bin Hasan al-Dimyathi.
20.    Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M).
21.    Sayid Abu Bakar bin Muhammad Syatha al-Dimyathi (w. 1310 H/1892 M).
22.    Syaikh Muhammad Mahfuzh bin Abdullah al-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M).
23.    Para ulama Tanah Air seperti KH. Moh. Hasyim Asy'ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. MuhammadBaqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma'shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain.
Demikian mata rantai sanad madzhab al-Asy'ari dan madzhab al-Maturidi yang sampai kepada guru-guru kita, para tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Selain sanad di atas, masih banyak jalur-jalur lain yang menyambungkan mata rantai akidah Ahlussunnah Wal-Jama'ah kepada para ulama terdahulu, hingga kepada RasulullahJ. Wallahu a'lam.

Karya Tulis Hasyim 
Dilahirkan pada 14 Februari 1871 M, KH Hasyim Asy’ari ketika kecil dan remaja merupakan sosok yang haus terhadap ilmu. Beliau telah berpindah-pindah lebih dari satu pondok pesantren dan pernah memperdalam ilmu di Mekah. Selain menjadi salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Asy’ari juga dikenal sebagai pendiri pondok pesantren Tebu Ireng , Jombang, Jawa Timur, pada 1899.Ulama yang juga pejuang kemerdekaan Indonesia ini memang diakui kapasitas keilmuannya di bidang agama. Mengajarkan ilmu tentu menjadi aktivitas beliau, apalagi ketika beliau mendirikan pondok pesantren sendiri. Yang mungkin tak pernah diketahui, Hasyim Asyari juga menulis pelbagai buku. Ada buku beliau yang menjelaskan perilaku yang harus dimiliki murid dan guru. Perilaku murid terhadap dirinya, terhadap gurunya, dan terhadap pelajarannya dijelaskan dalam buku Adab al-Alim wa al-Muta-alim (Perilaku Guru dan Murid). Buku ini juga menjelaskan perilaku guru terhadap dirinya, terhadap muridnya, dan terhadap pelajarannya. Karya-karya tulis Hasyim Asy’arie ini dipaparkan Drs. Shalahuddin Hamid, MA&Drs. Iskandar Ahza, MA dalam buku 100 Tokoh Islam yang Paling Berpengaruh di Indonesia(2003).Buku lainnya yang ditulis beliau adalah An-Nur Al-Mubin yang berisi tentang makna cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan hal-hal yang perlu diikuti dalam rangka menghidupkan sunnahnya. Penjelasan mengenai keadaan manusia yang meninggal dunia dan tanda-tanda hari kiamat ditulis dalam buku beliau berjudul ar-Risalah al-Jamiah (Kumpulan Risalah-risalah). Penjelasan tentang pemahaman sunnah dan bid’ah juga terdapat buku ini. Adapun dalam buku at-Tibyan Fin Nahyi An Muqotaat al-Ikhwan (Larangan Memutuskan Kawan), beliau menegaskan betapa pentingnya jalinan persaudaraan antarsesama muslim.Selain buku-buku tersebut, beliau pernah menulis buku Ziyadah Taliqat (Tambahan Catatan-catatan) yang berisi jawaban-jawaban terhadap pernyataan Syaikh Abdullah bin Yasin al-Pasuruwani yang dianggap dapat melemahkan warga besar NU. Buku ar-Risalah at-Tauhidiyah (Risalah Ketauhidan) juga pernah disusun beliau. Selain itu, ada buku beliau berjudul at-Tanbihat al-Wajibat (Mengingatkan Hal-hal yang Wajib), Hasyiyah ala Fath ar-Rahman, ad-Durar al-Muntatsiroh fi Masail at-Tisa Asyaroh (Taburan Permata yang Indah Mengenai 19 Perkara), al-Qola-id (Kalung Perhiasan), dan lain sebagainya. Wallahu a’lam.



Comments

Popular posts from this blog

Suluk Linglung

Dalam kehidupan tasawuf, seorang yang ingin menyempurnakan dirinya harus melalui beberapa tahap-tahap dalam perjalanan spiritualnya. Dimana tahap paling dasar adalah syari'at, yaitu tahap pelatihan badan agar dicapai kedisiplinan dan kesegaran jasmani. Dalam syari'at hubungan antar manusia dijalin menjadi umat, syariat dimaksudkan untuk membawa  seseorang ke dalam sebuah bangunan kolektif, yang disebut umat, bangunan persaudaraan berdasarkan kepercayaan atau agama yang sama. Begitu juga yang diajarkan dan dilaksanakan oleh  Sunan Kalijaga  di dalam kitab Suluk Linglung, ia sangat menekankan pentingnya menjalankan syari'at Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, termasuk sholat lima waktu, puasa ramadhan, membayar zakat dan menjalankan ibadah haji. Agar dapat menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan sungguh-sungguh (kaffah), baginya harus melalui berbagai tirakat dan perenungan diri yang sungguh-sungguh pula. Dengan begitu manusia akan dapat mengerti...

10 Mutiara yang akan diambil Jibril as.

رُوِىَ أَنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ نَزَلَ عَلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فىِ مَرَضِ مَوْتِهِ فَقاَلَ ياَجِبْرِيْلُ هَلْ تَنْزِلُ مِنْ بَعْدِى , فَقاَلَ نَعَمْ ياَرَسُوْلَ اللهِ أَنْزِلُ عَشْرَ مَرَّاتٍ أَرْفَعُ العَشْرَ الجَواَهِرِ مِنَ الأَرْضِ قاَلَ ياَ جِبْرَيْلُ وَماَتَرْفَعُ مِنْهاَ , قاَلَ , (الأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِنَ الأَرْضِ (وَالثَّانىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِنْ قُلُوْبِ الخَلْقِ (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِنْ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ (وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِنَ الأُمَراَءِ (وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَياَءَ مِنَ النِّساَءِ (وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِنَ الفُقَراَءِ (وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِنَ العُلَماَءِ (وَالثَّامِنُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِنَ الأَغْنِياَءِ (وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآنَ (وَالعاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِيْماَنَ Ketika Rasulullah dalam keadaan sakit yg menghantarkan belaiu wafat, malaikat Jibril datang menemuinya. Setelah berbincang sejenak Rasulullah bertanya kepada Jibril...

Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya: Pertama , at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143). Kedua  at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli  (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT: لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا ...