MU dan NU secara tegas
menolak masuknya PKS ke dalam tubuh Muhammadiyah dan NU. Adalah Din Syamsuddin
yang Ketua Umum PP Muhammadiyah menolak ajakan aliansi PKS yang secara
bersama-sama membangun bangsa dengan memasukkan Muhammadiyah sebagai bagian
dari PKS. Muhammadiyah sudah lama ada, sebagaimana NU, yang kembali ke Khittah
dan tak mau mencampuradukkan antara politik dan agama sejak zaman Belanda.
Makanya NU dan Muhammadiyah tetap hidup sampai sekarang.
Sejarah Masyumi membuktikannya
ketika NU, Persis, Muhammadiyah bersatu ke dalam gerbong besar Masyumi dan
memerintah seumur jagung. NU dan Muhammadiyah belajar dari kasus Masyumi itu.
Mereka sadar bahwa NU, Muhammadiyah bukanlah gerakan politik praktis, namun
langkah-langkah praktek politiknya melebihi partai politik. Kader NU dan
Muhammadiyah berterbaran di semua partai politik dan menguasai jagad kekuasaan
di Indonesia. Kualitas politik NU dan Muhammadiyah tak perlu diragukan lagi.
Amal usaha dan kontribusi NU dan
Muhammadiyah sungguh tak bisa dihitung. Sekolah dari TK sampai universitas,
klinik sampai rumah sakit, lembaga pendidikan, pesantren, yatim piatu, adalah
bukti kontribusi dua organisasi keren ini. Maka jadilah NU dan Muhammadiyah
sebagai dua pilar kekuatan bangsa yang menciptakan Islam menjadi rahmatan
lilalamin. Islam moderat spektakuler contoh Islam kaffah untuk dunia.
Bung Karno dan Soeharto juga
Susilo Bambang Yudhoyono, juga Habibie, juga Gus Dur, juga Megawati, juga saya
adalah produk kehebatan NU dan Muhammadiyah. Mereka mewakili kearifan lokal,
budaya, agama dan Islam yang diajarkan oleh NU dan Muhammadiyah. Mereka
memimpin bangsa dengan benar kecuali yang paling lemah SBY - namun masih tetap
Pancasila, lumayanlah!
Tiba-tiba partai seperti PAN dan
PKB akan memeluk Muhammadiyah dan NU dan menarik mereka ke gerbong partai.
Pertama Amien Rais…hasilnya jeblok karena Muhammadiyah menjaga jarak dengan
partai sejak zaman Belanda. Muhaimin Iskandar pun gagal membawa NU identik
dengan PKB. NU sadar bahwa langkah memeluk partai akan mengurangi kebesaran NU
yang telah dibangun selama ini.
Kini, PKS yang jelas partai politik mencoba masuk ke kandang Muhammadiyah dan
merayu menawarkan kerjasama. Ini suatu tindakan konyol Anis Matta yang mantan
orang Muhammadiyah. Anis mestinya ingat Muhammadiyah tidak bisa dibawa-bawa ke
ranah politik. Begitu menjadi pengurus partai, seorang kader Muhammadiyah
keluar dari Muhammadiyah. Amien Rais pun begitu dan gagal membawa gerbong
Muhammadiyah ke dalam PAN.
Nah, yang dilakukan Anis Matta
lebih konyol. Anis Matta yang mantan orang Muhammadiyah merayu Kiai Langitan
dan warga NU alias Nahdliyin, jelas NU menolak mentah-mentah tawaran aliansi
PKS yang sudah disusupi oleh HTI. PKS mengeras dan berideologi radikal mirip
HTI.
Anis Matta diberi lajaran oleh
Muhammadiyah dan NU. Muhammadiyah dan NU menolak aliansi dan tak member
dukungan kepada PKS. Apalagi PKS sudah membangun jaringan dukungan di akar
rumput dengan HTI. Lebih parah lagi PKS terbelit korupsi dan tindakan asusila seperti
kasus Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah dan kader penonton video porno.
Sudah tepat dan tegas
Muhammadiyah dan NU memiliki garis membedakan partai dan agama Islam. Partai
adalah partai organisasi amal NU dan Muhammadiyah dan gerakan Islamnya sudah
tak butuh partai politik. Terlebih lagi NU dan Muhammadiyah tahu belakangan PKS
mencampuraduk agama Islam dengan PKS. Juga aliansi kader PKS dan HTI begitu
nyata. Jelas NU dan Muhammadiyah yang ahlussunnah waljamaah itu menolak
politisasi agama dan partai politik ala PKS.
Comments
Post a Comment