IMAM SYAFI'I -Rahimahullah
-MENGHARAMKAN TAHLILAN (SELAMATAN KEMATIAN, MAJLIS TAHLIL atau KENDURI ARWAH) ;
BENARKAH ?
Tahlilan merupakan sebuah majelis yang berisi dzikir-dzikir yang masyru’, do’a, shalawat serta pembacaan al-Qur’an yang bertujuan untuk merahmati mayyit dengan pahala yang dihadiahkan kepada mayyit. Sangatlah tidak mungkin apabila Imam kita yakni Imam asy-Syafi’i mengharamkan tahlilan, tidak mungkin Imam asy-Syafi’i mengharamkan do’a, dzikir, shalawat dan bacaan al-Qur’an. Imam kita sangat bijaksana, ahli hadits dan luas ilmunya, penolong sunnah Nabi. Jadi, tidak akan mudah mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sebagian orang
telah mengutip dan memahaminya secara membabi buta terkait ucapan Imam
asy-Syafi’ rahimahullah yang terdapat dalam kitab al-Umm berikut ini :
وأكره
المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما
مضى فيه من الأثر
“aku menghukumi
makruh Ma’tam, dan yakni sebuah kelompok, dan walaupun tidak ada tangisan bagi
mereka sebab sesungguhnya itu memperbaharui kesedihan dan membebani biayai
beserta apa yang pernah terjadi”.
Dari kutipan
ini, sama sekali tidak ada ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan tahlilan.
Jadi, darimana isu-isu yang mengharamkan tahlilan dengan berdalil ucapan Imam
asy-Syafi’i ? Mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan mendo’akan muslim
yang meninggal dunia, mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan
menghadiahkan bacaan al-Qur’an untuk muslim yang meninggal dunia, mana pula
ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan semua itu yang dilakukan dikediaman
ahlul mayyit ? Jelas, ini salah satu bentuk untuk memecah belah umat Islam
terutama untuk menghancurkan pondasi madzhab Syafi’i yang memang paling banyak
di anut kaum Muslimin termasuk paling banyak di anut oleh Dzurriyah Nabi
shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Pertama, sudah
jelas bahwa Imam asy-Syafi’i memakruhkan (bukan mengharamkan) hal diatas,
artinya adalah apabila dikerjakan tidak berdosa dan apabila ditinggalkan akan
mendapat pahala. Apa yang dimakruhkan ?
Kedua, al-Ma’tam
berasal dari kata “atama – ya’timu” yang bermakna ‘apabila
dikumpulkan antara dua perkara”. Ma’tam asalnya adalah setiap perkumpulan
(perhimpunan) dari laki-laki atau perempuan baik dalam hal kesedihan maupun
kegembiraan. Kemudian pakar-pakar lughah, hanya mengkhususkan pada perhimpunan
perempuan pada orang mati. al-Jauhari mengatakan ; ma’tam menurut orang arab
adalah perempuan-perempuan yang berkumpul (berhimpun) dalam hal kebaikan dan
keburukan. Ibnu Barri ; tidak bisa di cegah agar ma’tam dipahami dengan makna
wanita yang meratap, kesedihan, ratapan dan tangisan sebab sesungguhnya
wanita karena untuk itu mereka berkumpul, dankesedihan itulah yang juga membuat
mereka berkumpul. [1]
Ketiga, Imam
asy-Syafi’i menghukumi makruh atas illat yang beliau sebutkan
sendiri yakni “yujaddidul huzn wa yukalliful mu’nah
(memperbaharui kesedihan dan membebani biaya)", apabila
tidak ada illa maka hukum makruh itu juga tidak ada, sebab kaidah ushul fiqh
mengatakan : “al-‘Illatu tadillu ‘alaal Hukmi yakni illat itu menunjukkan
atas hukum”.
Jadi, sekali
lagi tidak ada pengharaman Tahlilan oleh Imam asy-Syafifi rahimahullah.
PENJELASAN HABIB
MUNZIR AL-MUSAWA
Imam Syafii tak
menghendaki orang berkumpul kumpul dirumah duka karena akan menambah
dukanya, mereka membicarakan masa masa kehidupan si mayit, jasa baiknya,
ujungnya mereka menyesali takdir Allah, menyesali kematian almarhum,
Itu yang dimaksud Imam Syafii', bukan kumpulan para tetangga dirumahnya untuk mendoakan si mayit, kumpulan dzikir kalimat tauhid, alqur'an, dan dzikir-dzikir lainnya untuk mendoakan si mayit dan itu sangat meringankan beban keluarga si mayit, mereka senang tetangganya masih meramaikan rumah mereka yg senyap sepeninggal si mayit., dan mereka berdoa untuk si mayit bersama sama, ini tak pernah ditentang oleh Imam Syafii, bahkan Rasul saw melakukan takziyah pada yg wafat dan mendoakannya, bedanya masa sekarang adalah ditentukan waktunya, tidak lain adalah karena muslimin mempunyai kesibukan masing masing, maka agar kumpul ramai ramai walau 15 menit / setengah jam, berdoa bersama lalu pulang kerumah masing masing dan selesai tanpa berdesakan tinggal dirumah duka hingga berjam jam menyibukkan keluarga si mayit.
Itu yang dimaksud Imam Syafii', bukan kumpulan para tetangga dirumahnya untuk mendoakan si mayit, kumpulan dzikir kalimat tauhid, alqur'an, dan dzikir-dzikir lainnya untuk mendoakan si mayit dan itu sangat meringankan beban keluarga si mayit, mereka senang tetangganya masih meramaikan rumah mereka yg senyap sepeninggal si mayit., dan mereka berdoa untuk si mayit bersama sama, ini tak pernah ditentang oleh Imam Syafii, bahkan Rasul saw melakukan takziyah pada yg wafat dan mendoakannya, bedanya masa sekarang adalah ditentukan waktunya, tidak lain adalah karena muslimin mempunyai kesibukan masing masing, maka agar kumpul ramai ramai walau 15 menit / setengah jam, berdoa bersama lalu pulang kerumah masing masing dan selesai tanpa berdesakan tinggal dirumah duka hingga berjam jam menyibukkan keluarga si mayit.
Dan mengenai
ucapan Imam Syafii itu sebagaimana diatas, itupun beliau tak mengharamkannya,
hanya tak menyukai kumpul- dirumah almarhum dengan berbicara panjang lebar,
Imam Syafii tak
pernah menentang kumpulan dzikir dirumah almarhum untuk mendoakannya, cuma
wahaby saja yg mengharamkannya tanpa dalil dan mencari cari dalil yang bisa
dicocok-cocokkan dan dimirip-miripkan lalu jadilah fatwa baru tanpa ilmu. [Majelis
Rasulullah]
PERHATIAN
: banyak tulisan di internet yang katanya ucapan Imam
asy-Syafi’i namun ternyata sebagiannya bukan berasal dari kitab Imam
asy-Syafi’i tetapi kitab ‘ulama Syafi’iyah (I’anatuth Thalibin karya
Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi) dan apa yang ada dalam pembahasan kitab
tersebut adalah dihukumi makruh (bukan haram) –tapi bukan tahlilan-.
[1]. Lihat ;
Lisanul ‘Arab (4/12)
Tradisi yang
berkembang dikalangan NU, jika ada orang yang meningal, maka akan diadakan
acara tahlilan, do’a, dzikir fida dan lain sebagainya. Untuk mendo’akan orang
yang meningal dan biasanya dibarengi dengan jamuan makanan sebagai sodaqoh
untuk simayit. Dalil yang digunakan hujjah dalam masalah ini yaitu sebagaimana
disebutkan dalam kitab al-Hawi li-Al-Fatawi li as-syuyuti, Juz II, hlm
183
قَالَ
طَاوُسِ: اِنَّ اْلمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِىْ قُبُوْرِهِمْ سَْعًا فَكَانُوْا
يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَيَّامِ-اِلَى اَنْ
قَالَ-عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ قَالَ: يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٍ
وَمُنَافِقٍ فَأَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا وَاَمَّا الْمُنَافِقُ
يُفْتَنُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا.
Imam Thawus
berkata : seorang yang mati akan beroleh ujian dari Alloh dalam kuburnya selama
tujuh hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan
makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sampai kata-kata: dari
sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata: seorang mu’min dan seorang munafiq
sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mu’min akan beroleh
ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari diwaktu pagi. Dalil
diatas adalah sebuah atsar yang menurut Imam As-Syuyuty derajatnya sama dengan
hadis marfu’ Mursal maka dapat dijadikan hujjah makna penjelasannya:
اِنَّ أَثَرَ طَاوُسَ حُكْمُهُ حُكْمُ اْلحَدِيْثِ الْمَرْفُوْعِ اْلمُرْسَلِ وَاِسْنَادُهُ اِلَى التَّابِعِى صَحِيْحٌ كَانَ حُجَّةً عِنْدَ اْلاَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ اَبِي حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَاَحْمَدَ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ وَاَمَّا عِنْدَ الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَاِنَّهُ يَحْتَجُ بِاْلمُرْسَلِ اِذَا اعْتَضَدَ بِاَحَدِ أُمُوْرٍ مُقَرَّرَةٍ فِى مَحَلِهَا فِيْهَا مَجِيْئِ آخَرَ اَوْ صَحَابِيِّ يُوَافِقُهُ وَالْاِعْتِضَادِ هَهُنَا مَوْجُوْدٌ فَاِنَّهُ رُوِيَ مِثْلُهُ عَنْ مُجَاهْدِ وَعَْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ وَهُمَا تَابِعِيَانِ اِنْ لَمْ يَكُنْ عُبَيْدٌ صَحَابِيًا.
Jka sudah jadi
keputusan, atsar (amal sahabat Thawus) diatas hukumnya sama dengan hadist
Marfu’ Mursal dan sanadnya sampai pada tabi’in itu shahih dan telah dijadikan
hujjah yang mutlak(tanpa syarat) bagi tiga Imam (Maliki, Hanafi, Hambali).
Untuk Imam as-Syafi’i ia mau berhujjah dengan hadis mursal jika dibantu atau
dilengkapi dengan salah satu ketetapan yang terkait dengannya, seperti adanya
hadis yang lain atau kesepakatan Shahabat. Dan, kelengkapan yang dikehendaki
Imam as-Syafi’i itu ada, yaitu hadis serupa riwayat dari Mujahid dan dari ubaid
bin Umair yang keduanya dari golongan tabi’in, meski mereka berdua bukan
sahabat.
Lebih jauh, Imam
al-Syuyuti menilai hal tersebut merupakan perbuatan sunah yang telah dilakukan
secara turun temurun sejak masa sahabat.
Kesunnahan
memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap
berlaku hingga sekarang (zaman imam as-Syuyuti, abad x Hijriyah) di mekah dan
Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat
Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari Ulama Salaf
sejak generasi pertama (masa Sahabat Nabi Muhammad SAW).”
Selanjutnya
dalam Hujjah Ahlussunnh Wal jama’ah, juz 1 hlm. 37 dikatakan:
قَوْلُهُ-كَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ-مِنْ بَابِ قَوْلِ التَّابِعِي كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ-وَفِيْهِ قَوْلَانِ لِاَهْلِ الْحَدِيْثِ وَاْلاُصُوْلِ أَحَدُهُمَا اَنَّهُ اَيْضًا مِنْ بَابِ اْلمَرْفُوْعِ وَأَنَّ مَعْنَاهُ: كَانَ النَّاسُ يَفْعَلُوْنَ فِى عَهْدِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَعْلَمُ بِهِ وَيُقِرُّ عَلَيْهِ.
(Kata-kata Imam
thawus), pada bab tentang kata-kata Tabi’in, mereka melaksanakannya. Dalam hal
ini ada dua pendapat: pendapat ahli Hadis dan Ahli Ushul yang salah satunya
termasuk hadis Marfu’ maksudnya orang-orang dizaman Nabi melaksanakan hal itu,
Nabi sendiri tahu dan menyetujuinya.
Dalam kitab
Nihayah al-Zain, Juz I, halaman 281 juga disebutkan:
وَالتَّصَدُّقُ
عَنِ اْلمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ
سَبْعَةِ اَيَّامٍ اَوْ اَكْثَرَ اَوْ اَقَلَّ وَتَقْيِيْدُهُ بِبَعْضِ
اْلاَيَّامِ مِنَ اْلعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا اَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدِ اَحْمَدء
دَحْلَانِ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ اْلمَيِّتِ فِي
ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ اْلعِشْرِيْنَ وَفِي
اْلاَرْبَعِيْنَ وَفِي الِمأَةِ وَبِذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي
اْلمَوْتِ كَمَا اَفَادَهُ شَيْخَنَا يُوْسُفُ السُنْبُلَاوِيْنِيْ.
Di anjurkan oleh
syara’ shodaqoh bagi mayit,dan shodaqoh itu tidak di tentukan pada hari ke
tujuh sebelumnya maupun sesudahnya.sesungguhnya pelaksanaan shodaqoh pada
hari-hari tertentu itu cuma sebagai kebiasaan (adat) saja,sebagaimana fatwa
Sayid Akhmad Dahlan yang mengatakan ”Sungguh telah berlaku dimasyarakat adanya
kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematian, hari ketujuh,
dua puluh, dan ketika genap empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu
dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh
Syaikh Yusuf Al-Sumbulawini. Adapun istilah 7 “tujuh hari” dalam acara tahlil
bagi orang yang sudah meninggal, hal ini sesuai dengan amal yang dicontohkan
sahabat Nabi SAW. Imam Ahmad bin Hanbal RA berkata dalam kitab Al-Zuhd,
sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li
Al-Fatawi:
حَدَّثَنَا
هَاشِمُ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا اْلأَشْجَعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ:
قَالَ طَاوُسُ: إِنَّ اْلمَوْتَ يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا
يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ
يُطْعِمُوْا
عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۷۸(
“Hasyim bin
Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Al-Asyja’i meriwayatkan kepada
kami dari Sufyan, ia berkata, “Imam Thawus berkata, “Orang yang meninggal dunia
diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para kalangan
salaf mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama
tujuh hari itu” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 178)
Imam Al-Suyuthi
berkata:
أَنَّ
سُنَّةَ اْلإِطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى
اءلآنَ بِمَكَّةَ وَاْلمَدِيْنَةَ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا
لمَ ْتَتْرُكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَأَنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص: ۱۹۴(
لمَ ْتَتْرُكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَأَنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص: ۱۹۴(
“Kebiasaan
memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap
berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriah) di Makkah
dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa
sahabat Nabi SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf
sejak generasi pertama (masa sahabat SAW)” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal
194)
Dari beberapa
dalil diatas dapat disimpulkan bahwa kebiasaan masyarakat NU tentang penentuan
hari dalam peringatan kematian itu dapat dibenarkan secara syara’.
Comments
Post a Comment