“Barang siapa mendengarkan seni dengan sungguh-sungguh, dia
mencapai hakekat, tapi barang siapa mendengarkan dengan syahwat, akan menjadi
zindiq”.
Acara Harlah NU ini sekaligus sebagai ajang memperkenalkan buku
Atlas WaliSongo yang ditulis oleh Agus Sunyoto.
Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang didapuk sebagai pengisi acara,
mengawal jalannya acara dengan begitu komunikatif.
“Buku ini ujung tonggak, komprehensif tentang dakwah wali songo”,
kalimat pembuka Cak Nun.
“Dalam dakwahnya, Wali songo itu, tidak ada satu dimensi
kehidupan manusia yang dia abaikan. Jadi dakwahnya itu dakwah kelengkapan
seluruh kemanusiaan.”
“Dalam hidup itu ada 3 dimensi: Bener salah, Baik buruk, dan
Indah jorok. Seluruh institusi, terminologi nilai, seluruh filosofi, dan apapun
saja sampai terapan politik dan kebudayaan, harus senantiasa mengharmonikan 3
dimensi ini. Di luar tiga itu ngga ada. Misal: sholat. Kita mau sholat itu
sebuah kebaikan, yang juga bernilai kebenaran, tapi belum tentu bernilai
keindahan. Begitu memenuhi syarat hukum islam, berarti sudah memenuhi
kebenaran. Di dalam aturan sholat, tidak ada aturan khusuk. Analoginya, misal
saya salaman sama kyai Said Agil tapi wajah saya tidak menghadap beliau, sorot
mata saya tidak berhadapan dengan sorot mata beliau, beliau merasa tidak kalau
saya berkomunikasi sama dia? Kira-kira bagaimana? kalau kita sholat tapi tidak
fokus hatinya, menurut logika kita, diterima atau tidak? Sholat bukan? Yang
sholat jasadnya, namun hatinya, fikirannya, budayanya tidak solat, ibadahnya
pincang. Kalau anda fokus kepada Allah, berarti anda khusyuk. Pertanyaannya,
kekhusyukan itu termasuk kebenaran, kebaikan, atau keindahan? Jadi baiknya
orang berniat sholat, dan benarnya orang menjalankan syariat rukun sholat, tapi
kalau tanpa kekhusyukan, logically dia belum sholat. Artinya
keindahan itu bisa lebih penting dari kebaikan dan kebenaran.”
“Menurut term itu, walisongo dalam dakwahnya memakai musik,
wayang, tidak mengaksesoriskan keindahan, tapi menomorsatukan keindahan
bersama-sama dengan kebaikan dan kebenaran. Itu ciri wali songo.” “Walisongo
merupakan negarawan yang luar biasa.”
“Orang-orang islam di merapi punya pedoman, Jowo digowo,
Arab digarap, barat diruwat. Arab harus digarap, Islam harus dibumikan di
indonesia, barat harus diruwat, semua yang datang dari barat harus
didetoksifikasi, disaring, dibuang racun-racunnya, tapi tidak ditolak.”
“Indonesia sekarang ini sedang gamang terhadap formula konstitusi
dan bentuk kenegaraannya. Jadi 2014 ini kemungkinan bisa ada pemilu bisa juga
tidak. semula saya menyangka majapahit itu negara persatuan sama seperti NKRI,
ternyata menurut pak Agus Sunyoto ini ternyata majapahit itu negara
persemakmuran. Sehingga negara dan pemerintah berbeda, dan daerah-daerah tidak
mengirim upeti kepada majapahit, karena negara persemakmuran. Dari para wali
ada ekperimentasi, diperlukan adanya satu kekuasaan/kedaulatan pemerintahan
yang lebih kuat. Dalam kasus Majapahit, dikala ada bencana yang mengancam
kondisi infrastruktur ekonominya yang akan mengakibatkan hilangnya negara majapahit,
maka eksperimentasi sunan kali jogo dibantu sunan kudus adalah merubah keprabon
majapahit menjadi kesultanan Demak. Kesultanan ini karena mengandalkan Al Quran
dan wali songo maka tidak memakai presiden dan perdana menteri. Dari
persemakmuran menjadi kesultanan. Setelah itu pindah ke mataram karena terjadi
konflik sunni syiah. Ada konflik yang tidak selesai karena diwarnai dengan
perebutan kekuasaan.”
“Sekarang tiba-tiba indonesia bikin negara persatuan? Relevansi
sejarahnya bagaimana? Sebabkan kita ini bikin NKRI tahun 40-an ini kan copy
paste saja? Kenapa kita tidak mengaca ke inggris? Jerman? Thailand? Kenapa
Amerika? Kita ini ngga jelas negara apa, namanya aja ngga jelas. Kalau dalam
lagu disebutnya Indonesia Raya, kalau sehari-hari disebut Indonesia, kalau
secara resmi disebutnya NKRI. Padahal sebenarnya kita telah melakukan
eksperimentasi bentuk negara sudah yang baik sejak dahulu kala, sejak jaman
majapahit dan walisongo, tapi kenapa malah memilih copy paste? Tiba-tiba
mencolot jadi orang modern tapi tidak jelas yang ditiru apa.”
Cak Nun kemudian sedikit memaparkan tentang filosofi dari lagu
Gundul-gundul Pacul. “Gundul itu suatu idiomatik untuk menunjukkan bahwa anak
masih kecil, masih kanak-kanak. You can play around. Tapi kalau sudah nyunggi
wakul, kamu tidak boleh gembelengan. Nyunggi wakul itu artinya bakul itu
kesejahteraan rakyat, letaknya berada di atas kepala presidennya. Bakulnya saja
di atas kepala presidennya. Maka rakyat lebih tinggi di atas presidennya dua
tingkat. Presiden harus mengolah sawah, bikin nasi, taruh di bakul, dan
antarkan bakul itu ke pintu rumah rakyat. Maka kata para wali, kalau nyunggi
wakulnya gembelengan, maka wakulnya gelimpang, segone jadi salatan. Zaman
sekarang ini bukan saja jadi salatan, segone sudah jadi satu campur sama dedek,
tai, dan macem-macem.”
Agus Sunyoto, sebagai penulis dari buku Atlas walisongo, memulai
paparannya dengan mengatakan bahwa tujuan buku ini ditulis karena ingin menjaga
sejarah walisongo dimana terindikasi adanya usaha sistematis untuk
menghilangkan keberadaan walisongo. Padahal menurut beliau, kalangan sejarawan,
termasuk yang baru ditulis dalam buku sejarah indonesia modern, menyebutkan
bahwa islamisasi yang terjadi pasca walisongo itu begitu cepat dan tidak masuk
akal, apa proses yang menyebabkan demikian, itu masih menjadi misteri untuk
kalangan sejarawan.
“Karena islam pertama kali datang disebarkan oleh
saudagar-saudagar dari Timur Tengah, itu diawal abad ke-6 masehi, tahun 670 .
datang ke kerajaan Kalingga. Ini menurut catatan dinasti Tang Cina. Tetapi
sampai raturan tahun kemudian islam tidak berkembang secara masif. Islam hanya
diikuti oleh orang-orang asing. Misalnya klo dinasti Tang mencatat tahun 670
sudah ada saudagar islam datang ke jawa, Tahun 1292, artinya 600 tahun
kemudian, Marcopolo pulang dari cina lewat lautan, ke teluk persia, dia singgah
ke tempat namanya perlak. Marcopolo menyebutkan di Perlak itu penduduknya
terdiri dari 3 kelompok masyarakat. Pertama, orang-orang cina, semua beragama
islam. Yang kedua, orang-orang barat yaitu arab dan persia, beragama islam.
Yang ketiga, pribumi, menyembah batu-batu, kayu, dan ruh yang ada di tengah
kehidupan masyarakat. Tahun 1292, seratus tahun kemudian, tahun ketika
Laksamana cengho datang pertama kali, dicatat oleh juru tulisnya, ketika
singgah di Tuban, mereka menemukan seribu keluarga china, semuanya muslim,
kemudian singgah lagi ke gresik, menemukan seribu keluarga cina semuanya
muslim, begitu pula di surabaya, itu tahun 1405. Itu menunjukkan islam belum
berkembang secara masal. Bahkan ketika cengho terakhir datang ke indonesia
tahun 1533 yaitu perjalanan ke-7, dia mengajak jurutulis bernama mahwan,
seorang haji, mahwan mencatat penduduk pulau jawa di sepanjang pantai utara,
mencatat terdiri dari 3 kelompok, penduduk cina semua beragama islam, kemudian
orang-orang barat yang juga islam,terakhir penduduk pribumi yang rata-rata
masih kafir semua. Tahun 1433. Jadi dari tahun 670 s.d 1433, delapan ratus
tahun islam tidak berkembang, tidak bisa diterima di indoensia. Itu fakta
sejarah. Lalu 7 tahun kemudian, dari campa (vietnam), datanglah rombongan sunan
ampel, itu pertama kali walisongo datang. Ketika sunan ampel datang ke
majapahit, diangkat menjadi imam di surabaya, kakanya ali murtado diangkat
menjadi imam di gresik. Setelah itu puteranya sunan ampel yaitu sunan drajat,
dakwah dikenal dengan generasi wali songo. Terbentuk tahun 1470, itu era
walisongo.”
“Dengan pendekatan yang cultural kepada masyarakat, kira-kira 50
tahun kemudian setelah walisongo lahir, yaitu tahun 1515, seorang Portugis
bernama Tome Pires datang ke jawa, saat itu masih ada sunan kali jogo, sunan
giri ke-2 juga masih ada. Tome Pires mencatat sepanjang pantai utara pulau jawa
penguasanya adalah adipati-adipati muslim. Ada kerajaan jawa kafir di pedalaman,
nama rajanya wijaya, yaitu majapahit. Jadi setelah adanya walisongo, sepanjang
pantura penduduknya muslim semua. Itu hasil dakwah Walisongo yang begitu cepat
dan meluas. Jadi itulah yang oleh sejarawan dianggap tidak masuk akal, ada
dakwah begitu cepat hanya butuh waktu 50 tahun, dimana kondisi
infrastruktur transportasi dan komunikasi saat itu tidak memungkinkan. Bahkan
dakwah meluas sampai ke daerah maluku. Artinya, betapa Walisongo sangat
“sakti”. Tahun 1522, ada orang Italia bernama Antonio Pigafetta, datang ke
jawa. Dia masih melihat ada orang majapahit, tapi sepanjang pantura dan
pedalaman sebagian besar sudah menjadi muslim. Artinya itu memang dakwah
walisongo. Tidak masuk akal bisa begitu cepatnya dakwah secara massif pasca
walisongo, para sejarawan belum mampu menjelaskan fenomena itu.”
“Ternyata jika dikaji dengan pendekatan sosiologi masyarakat saat
itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan islam tidak dapat diterima oleh
masyarakat di Nusantara secara masal. Kita ambil contoh, ketika awal islam
dikembangkan oleh Rasulullah, Rasulullah sempat mengirim surat kepada raja
Persia untuk memeluk islam, tetapi raja Persia menolak, bahkan dengan
marah-marah merobek surat itu. Raja Persia merasa bangsanya sudah maju/beradab,
tidak mungkin mengikuti bangsa dari padang pasir yang belum punya peradaban.
ketika surat dikirim lagi oleh Rasulullah ke kaisar Romawi, rakyat Romawi pun
juga menolak, karena mereka sudah menjadi bangsa maju. Rupanya kasus ini juga
terjadi di Indonesia. ketika saudagar-saudagar islam menyiarkan islam kepada
masyarakat Indonesia, penduduk Indonesia saat itu sudah maju, teknologinya
sudah tinggi. Contoh yang membuktikan bahwa peradaban indonesia sudah tinggi
saat itu, pada abad ke-3 tahun 270, ada seorang pegawai bea cukai dari pelabuhan
Guangzou, namanya Wan Shen, dia menulis, kapal dagang dari selatan (jawa)
dagang ke cina, ukuran kapalnya tiga kali lebih besar dari kapal ukuran cina.
Bisa dinaiki 700 orang awak kapal dan mampu memuat 10.000 ton barang. Yang mana
saat itu bangsa Cina belum mampu membuat kapal sebesar itu. Belum lagi
kemampuan membikin bangunan-bangunan (candi) yang besar. Itu semua tercatat.
Bahkan sejak tahun 648 (sama dengan masa khalifah Usman) Indonesia untuk
pertama kali, Sudah memiliki kitab undang-udang hukum pidana dan perdata,
namanya kitab Kalingga Darma Sastra. Disusun oleh Raja Kalingga, Kartisea
Singa, istrinya yang terkenal bernama Ratu Sima. Ini merupakan KUHP pertama,
terdiri dari 119 pasal.”
“Di masa itu, Sistem pemerintahan pun sudah maju. Raja hanya
berperan sebagai kepala negara. Raja yang membawahi para hakim dan jaksa,
mempunyai kewenangan menegakkan hukum. Yang mengatur pemerintahan namanya
Patih, Raja tidak ikut-ikutan memerintah. Sistem demokrasi saat itu untuk
melindungi rakyat, yaitu, Raja punya kewenangan untuk menerima langsung keluhan
masyarakat atas jalannya pemerintahan. Mekanismenya, makin banyak rakyat yang
mengeluh, Raja punya kewenangan untuk mencopot pejabat pemerintahan saat itu.
Kemudian, Aturan pada saat itu, Raja dan pejabat pemerintahan harus berasal
dari kalangan ksatria. Di dalam kitab aturan tentang ketatanegaraan, disebutkan
bahwa kalangan ksatria itu adalah tidak punya kekayaan pribadi, semua milik
negara. Jadi korupsi itu tidak ada, karena tidak boleh punya kekayaan pribadi.
Kalau punya kekayaan pribadi, artinya status sosialnya turun, menjadi golongan
waisya (petani). Nanti kalau kekayaannya makin besar lagi, status sosialnya
turun lagi, menjadi golongan Sudra (saudagar, renternir, tuan tanah). Semakin
besar kepemilikian materi, semakin rendah status sosialnya. Itu aturan sosial
masyarakat saat itu. Saat itu, kalau seseorang punya kekayaan berlimpah,
dianggap rendah. Karena asumsinya kepunyaan terhadap harta benda duniawi
dianggap rendah secara status sosial. Di bawah golongan Sudra, ada golongan
Kandala dan Maleca, yaitu golongan orang asing. Itulah yang di dalam Prasasti
Wurudu kidul disebut golongan kilaran (pelayan). Jadi sejak zaman mataram
kuno sampai dengan zaman sriwijaya dan majapahit, penduduk pribumi tidak boleh
bekerja sebagai pelayan. Statusnya orang mulia. Derajatnya lebih tinggi dari
orang asing. Karena itu yang harus jadi pelayan harus orang asing.”
“Maka dari itu, ketika saudagar-saudagar arab itu datang ke
Indonesia untuk menyebarkan islam, mereka langsung termasuk golongan orang
asing (Kandala dan Maleca), orang pribumi tidak mau mengikuti ajaran
saudagar-saudagar itu, karena dianggap sebagai golongan lebih rendah. Itulah
yang menghambat ajaran islam berkembang di Indonesia. ketika wali songo datang
ke Indonesia, wali songo bukan saudagar, namun golongan brahmana, guru-guru.
Apalagi kemudian mereka menjadi bangsawan-bangsawan. itulah salah satu faktor
kenapa islam bisa diterima di zaman wali songo, karena adanya penyesuaian
struktur sosial. Proses ini baru mengalami perubahan pada tanggal 1 mei 1848,
ketika Belanda menerapkan struktur sosial baru, yaitu menempatkan orang-orang
kulit putih sebagai warga kelas satu, timur tengah, china, arab, india sebagai
warga kelas dua, dan pribumi jadi warga kelas ketiga. Dibalik. Itulah kenapa
orang pesantren kemudian melakukan perlawanan terhadap belanda. Selama tahun
1800 s.d 1900 dalam tempo seratus tahun, terjadi 112 kali pemberontakan yang
dipimpin oleh guru tarekat dari pesantren. itulah cikal bakal NU berdiri. Tidak
mau orang pesantren direndahkan oleh aturan pemerintah Belanda. Proses
koloniasisasi yang dilakukan pemerintah Belanda begitu sistematis, menanamkan
hegemoni pikiran melalui sistem pendidikan sekolah. Penundukan masyarakat untuk
mengikuti aturannya Kolonial. Karena itu, pesantren tidak diakui sebagai
lembaga pendidikan. Dan masih berlangsung hingga saat ini.”
Agus Sunyoto dalam paparannya kemudian menyampaikan beberapa
fakta sejarah tentang hegemoni pemikiran barat yang menguasai Indonesia, antara
lain:
Tahun 2012, Monash University bekerjasama dengan UIN Malang
meneliti tentang pesantren. Bagaimana mungkin pesantren masih bisa berjalan di
era globalisasi sekarang, dimana sekolah-sekolah sudah bertaraf Internasional.
Ngaji di pondok masih menggunakan bahasa lokal, padahal sudah era bahasa
Inggris. Yang mana era globalisasi merubah semua, termasuk kearifan lokal.
Kalau dahulu nama-nama anak masih bermuatan lokal, namanya
Sumaji, marsono, choirul, Joko, siti, Marpuah, dst. Begitu reformasi, tahun
1999, nama-nama di Indonesia berubah menjadi nama ke-barat-barat-an, seperti
Kevin, Clara, dll. Nama-nama barat pelan-pelan menjadi juara di Nusantara,
bahkan kita malu jika nama kita nama lokal, terdengar kampungan. Ternyata di
kalangan pesantren masih kuat lokalitasnya.
Kiai-kiai zaman Hasyim Ansari menolak bersekolah, karena mereka
tahu, itu merupakan bagian dari hegemoni pemikiran barat. Penundukan terhadap
mindset berfikir. Sampai kemudian, Belanda menetapkan semua pejabat pemerintah
harus mempunyai ijazah sekolah. Zaman Jepang, ketika pemerintah jepang
membentuk tentara sukarela PETA, terbentuk 65 batalyon. dari 65 batalyon,
20 batalyon diantaranya komandannya seorang kiai. Ketika tahun 1948 Bung Hatta
menjadi Perdana Menteri, baru terjadi rekrutmen tentara, yang mana tentara yang
professional, harus ditunjukkan dengan kepemilikan ijazah.
Comments
Post a Comment