Peringatan 3, 7,
20, 40, 100 Hari Orang Yang Meninggal
Tradisi yang
berkembang dikalangan NU, jika ada orang yang meningal, maka akan diadakan
acara tahlilan, do’a, dzikir fida dan lain sebagainya. Untuk mendo’akan orang
yang meningal dan biasanya dibarengi dengan jamuan makanan sebagai sodaqoh
untuk simayit.
Dalil yang
digunakan hujjah dalam masalah ini yaitu sebagaimana disebutkan dalam kitab
al-Hawi li-Al-Fatawi li as-syuyuti, Juz II, hlm 183
قَالَ
طَاوُسِ: اِنَّ اْلمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِىْ قُبُوْرِهِمْ سَْعًا فَكَانُوْا
يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَيَّامِ-اِلَى اَنْ
قَالَ-عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ قَالَ: يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٍ
وَمُنَافِقٍ فَأَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا وَاَمَّا الْمُنَافِقُ
يُفْتَنُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا.
Imam Thawus
berkata : seorang yang mati akan beroleh ujian dari Alloh dalam kuburnya selama
tujuh hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah
jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sampai kata-kata:
dari sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata: seorang mu’min dan seorang munafiq
sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mu’min akan beroleh
ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari diwaktu pagi.
Dalil diatas
adalah sebuah atsar yang menurut Imam As-Syuyuty derajatnya sama dengan hadis
marfu’ Mursal maka dapat dijadikan hujjah makna penjelasannya:
اِنَّ
أَثَرَ طَاوُسَ حُكْمُهُ حُكْمُ اْلحَدِيْثِ الْمَرْفُوْعِ اْلمُرْسَلِ
وَاِسْنَادُهُ اِلَى التَّابِعِى صَحِيْحٌ كَانَ حُجَّةً عِنْدَ اْلاَئِمَّةِ
الثَّلَاثَةِ اَبِي حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَاَحْمَدَ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ
وَاَمَّا عِنْدَ الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَاِنَّهُ يَحْتَجُ
بِاْلمُرْسَلِ اِذَا اعْتَضَدَ بِاَحَدِ أُمُوْرٍ مُقَرَّرَةٍ فِى مَحَلِهَا
فِيْهَا مَجِيْئِ آخَرَ اَوْ صَحَابِيِّ يُوَافِقُهُ وَالْاِعْتِضَادِ هَهُنَا
مَوْجُوْدٌ فَاِنَّهُ رُوِيَ مِثْلُهُ عَنْ مُجَاهْدِ وَعَْ عُبَيْدِ بْنِ
عُمَيْرِ وَهُمَا تَابِعِيَانِ اِنْ لَمْ يَكُنْ عُبَيْدٌ صَحَابِيًا.
Jka sudah jadi
keputusan, atsar (amal sahabat Thawus) diatas hukumnya sama dengan hadist
Marfu’ Mursal dan sanadnya sampai pada tabi’in itu shahih dan telah dijadikan
hujjah yang mutlak(tanpa syarat) bagi tiga Imam (Maliki, Hanafi, Hambali).
Untuk Imam as-Syafi’i ia mau berhujjah dengan hadis mursal jika dibantu atau
dilengkapi dengan salah satu ketetapan yang terkait dengannya, seperti adanya
hadis yang lain atau kesepakatan Shahabat. Dan, kelengkapan yang dikehendaki
Imam as-Syafi’i itu ada, yaitu hadis serupa riwayat dari Mujahid dan dari ubaid
bin Umair yang keduanya dari golongan tabi’in, meski mereka berdua bukan
sahabat.
Lebih jauh, Imam
al-Syuyuti menilai hal tersebut merupakan perbuatan sunah yang telah dilakukan
secara turun temurun sejak masa sahabat.
Kesunnahan
memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap
berlaku hingga sekarang (zaman imam as-Syuyuti, abad x Hijriyah) di mekah dan
Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat
Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari Ulama Salaf
sejak generasi pertama (masa Sahabat Nabi Muhammad SAW).”
Selanjutnya
dalam Hujjah Ahlussunnh Wal jama’ah, juz 1 hlm. 37 dikatakan:
قَوْلُهُ-كَانُوْا
يُسْتَحَبُّوْنَ-مِنْ بَابِ قَوْلِ التَّابِعِي كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ-وَفِيْهِ
قَوْلَانِ لِاَهْلِ الْحَدِيْثِ وَاْلاُصُوْلِ أَحَدُهُمَا اَنَّهُ اَيْضًا مِنْ
بَابِ اْلمَرْفُوْعِ وَأَنَّ مَعْنَاهُ: كَانَ النَّاسُ يَفْعَلُوْنَ فِى عَهْدِ
النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَعْلَمُ بِهِ وَيُقِرُّ عَلَيْهِ.
(Kata-kata Imam
thawus), pada bab tentang kata-kata Tabi’in, mereka melaksanakannya. Dalam hal
ini ada dua pendapat: pendapat ahli Hadis dan Ahli Ushul yang salah satunya
termasuk hadis Marfu’ maksudnya orang-orang dizaman Nabi melaksanakan hal itu,
Nabi sendiri tahu dan menyetujuinya.
Dalam kitab
Nihayah al-Zain, Juz I, halaman 281 juga disebutkan:
وَالتَّصَدُّقُ
عَنِ اْلمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ
سَبْعَةِ اَيَّامٍ اَوْ اَكْثَرَ اَوْ اَقَلَّ وَتَقْيِيْدُهُ بِبَعْضِ
اْلاَيَّامِ مِنَ اْلعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا اَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدِ اَحْمَدء
دَحْلَانِ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ اْلمَيِّتِ فِي
ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ اْلعِشْرِيْنَ وَفِي
اْلاَرْبَعِيْنَ وَفِي الِمأَةِ وَبِذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي
اْلمَوْتِ كَمَا اَفَادَهُ شَيْخَنَا يُوْسُفُ السُنْبُلَاوِيْنِيْ.
Di anjurkan oleh
syara’ shodaqoh bagi mayit,dan shodaqoh itu tidak di tentukan pada hari ke
tujuh sebelumnya maupun sesudahnya.sesungguhnya pelaksanaan shodaqoh pada
hari-hari tertentu itu cuma sebagai kebiasaan (adat) saja,sebagaimana fatwa
Sayid Akhmad Dahlan yang mengatakan ”Sungguh telah berlaku dimasyarakat adanya
kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematian, hari ketujuh,
dua puluh, dan ketika genap empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu
dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh
Syaikh Yusuf Al-Sumbulawini.
Adapun istilah 7
“tujuh hari” dalam acara tahlil bagi orang yang sudah meninggal, hal ini sesuai
dengan amal yang dicontohkan sahabat Nabi SAW. Imam Ahmad bin Hanbal RA berkata
dalam kitab Al-Zuhd, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi
li Al-Fatawi:
حَدَّثَنَا
هَاشِمُ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا اْلأَشْجَعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ:
قَالَ طَاوُسُ: إِنَّ اْلمَوْتَ يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا
يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۷۸(
“Hasyim bin
Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Al-Asyja’i meriwayatkan kepada
kami dari Sufyan, ia berkata, “Imam Thawus berkata, “Orang yang meninggal dunia
diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para kalangan
salaf mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama
tujuh hari itu” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 178)
Imam Al-Suyuthi
berkata:
أَنَّ
سُنَّةَ اْلإِطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى اءلآنَ
بِمَكَّةَ وَاْلمَدِيْنَةَ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لمَ ْتَتْرُكْ مِنْ عَهْدِ
الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَأَنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى
الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۹۴(
“Kebiasaan
memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap
berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriah) di Makkah
dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa
sahabat Nabi SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf
sejak generasi pertama (masa sahabat SAW)” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal
194)
Dari beberapa
dalil diatas dapat disimpulkan bahwa kebiasaan masyarakat NU tentang penentuan
hari dalam peringatan kematian itu dapat dibenarkan secara syara’.
Tahlilan
A. Pengertian
Secara bahasa
tahlil diartikan sebagai ucapan kalimat “laailaha illalloh”. Secara istilah
adalah tradisi do’a bersama untuk mendo’akan orang yang telah meninggal atau
karena hajat lain, dengan membaca Al Qur’an, kalimat tayyibah, istighfar,
takbir, tahmid, tasbih, sholawat dan pahalanya diberikan kepada orang yang
sudah meninggal atau orang yang punya hajat sesuatu.
Dalam acara
tahlilan biasanya dibarengi dengan jamuan makanan dari keluarga yang sudah
meninggal atau yang mempunyai hajat sebagai shodaqoh.
B. Dalil-dalil
Tahlil
Banyak dalil Al
Qur’an, hadits maupun keterangan ulama yang menjelaskan tentang
diperbolehkannya tahlil dan do’a atau pahala yang ditujukan kepada orang yang
sudah meninggal bisa sampai dan bermanfaat bagi orang yang meninggal tersebut,
di antaranya:
1. QS. Muhammad
ayat 19
وَ
إسْتََغْفِرْ لِذَ نْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ (محمد:۱۹(
“Dan mohonlah
ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan”. (Muhammad:19)
Ayat tersebut
menerangkan bahwa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan mendapatkan
manfaat dari istighfar orang mukmin lainnya. Dalam Tafsir Al-Khazin dijelaskan:
فِيْ
مَعْنَي اْلَآيَةِ إِسْتَغْفِرْ لِذَ نْبِكَ أَيْ لِذًنُوْبِ أَهْلِ بَيْتِكَ (
وللمؤمنين والمؤمنات) يَعْنِيْ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ بَيْتِكَ وَهَذَا إِكْرَامٌ
مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ اْلأًمَّةِ حَيْثُ أَمَرَ نَبِيَّهُ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ أَنْ يَسْتَغْفِرَلِذُنُوْبِهِمْ وَهُوَ الشَّفِيْعُ
اْلمُجَابُ فِيْهِمْ (تفسير الخازن,ج: ۶,ص:۱۸۰(
“Makna ayat إستغفر لذنبكadalah mohonlah ampunan bagi dosa-dosa
keluargamu dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan,artinya selain
keluargamu. Ini adalah penghormatan dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada umat
Muhammad, dimana Dia memerintahkan Nabi-Nya untuk memohonkan ampun bagi
dosa-dosa mereka, sedangkan Nabi SAW adalah orang yang dapat memberikan
syafa’at dan do’anya diterima” (Tafsir Al-Khazin, Juz VI, hal 180)
2. QS. Al-Hasyr
10
وَالَّذِيْنَ
جَاؤُا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِإحْوَانِنَا
الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًا
لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبنَا إِنَّكَ رَؤوْفٌ رَحِيْمٌ ( الحسر:۱۰ (
“Dan orang-orang
yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami
hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun
dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang
dikerjakannya”
Mengenai ayat
ini Syekh ‘Alaudin Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al-Baghdadi memberikan
penjelasan:
يَعْنِيْ
أَلْحَقْنَا إَوْلَادَهُمْ الصِّغَارَ وَاْلكِبَارَ بِإِيْمَا نِهِمْ وَاْلكِبَارُ
بِإِيْمَا نِهِمْ بِأَنْفُسِهِمْ وَالصِّغَارُ بِإِيمَا نِ آبَائِهِمْ فَأِنَّ
الوَلَدَ الصَّغِيْرَ يُحْكَمُ بِإِسْلَامِهِ تَبْعًا لِأَحَدِ أَبَوَيْهِ ( أَلْحَقْنَا
بِهِمْ ذُرِّيَّاتِهِمْ ) يَعْنِيْ المُؤْمِنِيْنَ فِي اْلجَنَّةِ بِدَرَجَاتِ
آبَائِهِمْ وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوْا بِاَعْمَالِهِمْ دَرَجَاتِ آبَائِهِمْ
تَكْرِمَةً لِاَبَائِهِمْ لِتَقَرّ َاَعْيُنُهُمْ هَذِهِ رِوَايَةً عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ ( تفسير الخازن,ج:۶, ص: ۲۵۰(
“Artinya Kami menyamakan anak-anak
mereka yang kecil dan yang dewasa dengan keimanan orang tua mereka. Yang dewasa
dengan keimanan mereka sendiri, sementara yang kecil dengan keimanan orang
tuanya. Keislaman seorang anak yang masih kecil diikutkan pada salah satu dari
kedua orang tuanya. (Kami menyamakan kepada mereka keturunan mereka) artinya
menyamakan orang-orang mukmin di surga sesuai dengan derajat orang tua mereka,
meskipun amal-amal mereka tidak sampai pada derajat amal orang tua mereka. Hal
itu sebagai penghormatan kepada orang tua mereka agar mereka senang. Keterangan
ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA.” (Tafsir Al-Khazin, Juz VI, hal 250)
Penjelasan yang
sama dapat dilihat dalam Tafsir Jami’ Al-Bayan karya Ibnu Jarir Al-Thabari Juz
28 hal. 15.
Beberapa ayat
dan penafsiran tersebut menjadi bukti nyata bahwa orang yang beriman tidak
hanya memperoleh pahala dari perbuatannya sendiri. Mereka juga dapat merasakan
manfaat amaliyah orang lain.
Imam Muhammad
bin Ali bin Muhammad Al-Syaukani mengatakan bahwa hukum mengadakan pertemuan
atau perkumpulan untuk membaca tahlil adalah boleh sebagaimana pendapatnya
dalam kitab Al Rasa’il al Salafiyah.
ااَلْعَادَةُ
اْلجَارِيَةُ فِي بَعْضِ اْلبُلْدَانِ مِنَ اْلإِجْتِمَاعِ فِي اْلمَسْجِدِ
لِتِلاَوَةِ اْلقُرْأَنِ عَلَى اْلأَمْوَاتِ.وَكَذَالِكَ فِي اْلبُيُوْتِ وَسَا
ئِرِ اْلإِجْتِمَاعَاتِ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي الشَّرِيْعَةِ ,لاَشَكَّ إِنْ
كَانَتْ خَالِيَةً عَنْ مَعْصِيَةٍ سَلِيْمَةٍ مِنَ اْلمُنْكَرَاتِ فَهِيَ
جَائِزَةٌ لِاَءنَّ اْلإِجْتِمَاعَ لَيْسَ بِمُحَرَّمٍ بِنَفْسِهِ لاَسِيَمَا
إِذَا كَا نَ لِتَحْصِيْلِ طَاعَةٍ كَالتِّلاَوَةِ وَنَحْوِهَا وَلاَ يُقْدَحُ فِي
ذَلِكَ كَوْنُ تِلْكَ التِّلاَوَةِ مَجْعُوْلَةً لِلْمَيِّتِ فَقَدْ وَرَدَ جِنْسُ
التِّلاَوَةِ مِنَ اْلجَمَاعَةِ اْلمُجْتَمِعِيْنَ كَمَافِي حَدِيْثِ إِقْرَؤُوْا
“يَس” عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَلاَ فَرَقَ بَيْنَ تِلاَوَةِ
“يس” مِنَ اْلجَمَاعَةِ الحَاضِرِيْنَ عِنْدَ اْلمَيِّتِ أَوْ عَلَى قَبْرِهِ
وَبَيْنَ تِلاَوَةِ جَمِيْعِ اْلقُرْآنِ أَوْ بَعْضِهِ لِمَيِّتٍ فِي مَسْجِدِهِ
أَوْ بَيْتِهِ ( الرسائل السلفية: ۴۶(
“Kebiasaan di
sebagian negara mengenai perkumpulan atau pertemuan di Masjid, rumah, di atas
kubur, untuk membaca Al-Qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah
meninggal dunia, tidak diragukan lagi hukumnya boleh (jaiz) jika didalamnya
tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran, meskipun tidak ada penjelasan
(secara dzahir) dari syari’at. Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu pada
dasarnya bukanlah sesuatu yang haram (muharram fi nafsih), apalagi jika di
dalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan ibadah seperti membaca
Al-Qur’an atau lainnya. Dan tidaklah tercela menghadiahkan pahala membaca
Al-Qur’an atau lainnya kepada orang yang telah meninggal dunia. Bahkan ada
beberapa jenis bacaan yang didasarkan pada hadits shahih seperti إقرؤوا “يس” على موتاكم (bacalah
surat Yasin kepada orang mati di antara kamu). Tidak ada bedanya apakah
pembacaan Surat Yasin tersebut dilakukan bersama-sama di dekat mayit atau di
atas kuburannya, dan membaca Al-Qur’an secara keseluruhan atau sebagian, baik
dilakukan di Masjid atau di rumah.” (Al-Rasa’il Al-Salafiyah, 46).
Kesimpulan
al-Syaukani ini memang didukung oleh banyak hadits Nabi SAW. Diantaranya
adalah:
عَنْ
أَبِيْ سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا
حَفَّتْهُمُ اْلمَلَائِكَةُ وَغَشِيَهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ
السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ ( رواه مسلم, ۴۸۶۸(
“Dari Abi Sa’id
al-Khudri RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu
kaum sambil berdzikir kepada Allah SWT, kecuali mereka akan dikelilingi
malaikat, dan Allah SWT akan memberikan rahmat-Nya kepada mereka, memberikan
ketenangan hati dan memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya” (HR.
Al-Muslim, 4868)
Kesimpulan Al
Syaukani ini bersumber dari Hadits yang shahih:
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ
يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَرَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ
عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ اْلمَلَائِكَةُ
وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ ( سنن ابن ما جه : ۲۲۱(
“Dari Abi
Hurairah RA ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu
kaum di dalam salah satu rumah Allah SWT, sambil membaca Al-Qur’an
bersama-sama, kecuali Allah SWT akan menurunkan kepada mereka ketenangan hati,
meliputi mereka dengan rahmat, dikelilingi para malaikat, dan Allah SWT
memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya” (Sunan Ibn Majah, 221)
Dalam hadits
lain yang diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ
أَبِيْ سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا
حَفَّتْهُمُ اْلمَلَائِكَةُ وَغَشِيَهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ
السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ ( رواه مسلم, ۴۸۶۸(
“Dari Abi Sa’id
al-Khudri RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu
kaum sambil berdzikir kepada Allah SWT, kecuali mereka akan dikelilingi
malaikat, dan Allah SWT akan memberikan rahmat-Nya kepada mereka, memberikan
ketenangan hati dan memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya” (HR.
Al-Muslim, 4868)
Pada ulama juga
sepakat bahwa pahala sampai dan bermanfaat bagi orang yang telah meninggal
tersebut.
Ibnu Taimiyah
menyatakan:
قَالَ
شَيْخُ تَقِيُ الدِّيْنِ أَحْمَدُ بْنُ تَيْمِيَّةِ فِيْ فَتَاوِيْهِ,
اَلصَّحِيْحُ أَنَّ اْلمَيِّتَ يَنْتَفِعُ بِجَمِيْعِ اْلعِبَادَاتِ
اْلبَدَنِيَّةِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ وَاْلقِرَاءَةِ كَمَا يَنْتَفِعُ
بِااْلعِبَادَاتِ اْلمَالِيَّةِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَنَحْوِهَا بِاتِّفَاقِ
اْلأَئِمَّةِ وَكَمَا لَوْ دُعِيَ لَهُ وَاسْتُغْفِرَ لَهُ( حكم الشريعة الإسلامية
في مأتم الأربعين:۳۶(
“Syaikhul Islam
Taqiyuddin Ahmad bin Taymiyah dalam kitab Fatwanya berkata, “pendapat yang
benar dan sesuai dengan kesepakatan para imam, bahwa mayit dapat memperoleh
manfaat dari semua ibadah, baik ibadah badaniyah (ibadah fisik) seperti shalat,
puasa, membaca Al-Qur’an, atau ibadah maliyah (ibadah materiil) seperti sedekah
dan lain-lainnya. Hal yang sama juga berlaku untuk berdo’a dan membaca
istighfar bagi mayit.” (Hukm Al-Syariah Al-Islamiyah fi Ma’tamil Arba’in, 36)
Dalam kitab
Nihayah al-Zain disebutkan:
قَالَ
ابْنُ حَجَرٍ نَقْلًا عَنْ شَرْحِ اْلمحُتْاَرِ:مَذْهَبَ أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ
لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَ عَمَلِهِ وَصَلَاتِهِ لِلْمَيِّةِ وَيَصِلُهُ
( نهاية الزين: ۱۹۳(
“Ibnu Hajar
dengan mengutip Syarh Al-Mukhtar berkata, “Madzhab Ahlussunnah berpendapat
bahwa seseorang dapat menghadiahkan pahala amal dan do’anya kepada orang yang
telah meninggal dunia. Dan pahalanya akan sampai kepadanya.” (Nihayah Al-Zain,
193)
Ibnu Al-Qayyim
berpendapat:
قَالَ
ابْنُ قَيِّمِ اْلجَوْزِيَّةِ فَأَفْضَلُ مَا يُهْدَى إِلَى اْلمَيِّتِ أَلْعِتْقُ
وَالصَّدَقَةُ وَاْلإِسْتِغْفَارُ لَهُ وَاْلحَجُّ عَنْهُ وَأَمَا قِرَاءَةُ
اْلقُرْآنِ وَإِهْدَاءُهَا لَهُ تَطَوُّعًا بِغَيْرِ أُجْرَةٍ فَهَذَا يَصِلُ
إِلَيْهِ كَمَا يَصِلُ ثَوَابُ الصَّوْمِ وَالْحَجِّ (الروح:۱۴۲(
“Ibnu Qayyim
Al-Jauziah berkata, “Sebaik-baik amal yang dihadiahkan kepada mayit adalah
memerdekakan budak, sedekah, istighfar, do’a, dan haji. Adapun pahala membaca
Al-Qur’an secara suka rela (tanpa mengambil upah) yang dihadiahkan kepada
mayit, juga sampai kepadanya. Sebagaimana pahala puasa dan haji” (Al-Ruh, 142).
Dari beberapa
dalil hadits, Al Qur’an, hadits dari keterangan para ulama di atas dapat
disimpulkan bahwa hukum tahlilan bukanlah bid’ah dan pahala yang ditujukan
kepada mayit bisa sampai dan bermanfaat bagi mereka.
Comments
Post a Comment