Mengapa Islam sering memberi
motivasi dan memberi kabar gembira dengan sesuatu di surga padahal hal itu
diharamkan di dunia ? Seperti hubungan antara laki-laki dengan wanita diluar
nikah yang dianggap haram. Dan apabila seorang muslim menjauhi hal itu di
dunia, maka dia akan dibalas dengan diberikan bidadari di surga?
Allah telah menjelaskan tentang
surga di dalam kitab-Nya yang mulia dan apa-apa yang dijanjikan di dalamnya.
Diapun telah menerangkan tentang keadaan surga dan para penghuninya di beberapa
ayat dalam Al-Qur'an. Di antaranya:
"Di dalamnya ada mata air
yang mengalir. Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan. Dan gelas-gelas
yang diletakkan. Dan bantal-bantal sandaran yang disusun. Dan
permadani-permadani yang dihamparkan." (Q.S. Al-Ghasyiyah: 12-16)
"Dan bagi orang yang takut
ketika bertemu dengan Rabbnya ada dua surga. Maka nikmat Allah yang mana lagi
yang akan kalian dustakan. Kedua surga itu mempunyai pohon-pohon dan
buah-buahan. Maka nikmat Allah yang manalagikah yang akan kalian dustakan. Di
dalam kedua surga itu ada dua mata air yang mengalir. Maka nikmat Allah yang
manalagikah yang akan kalian dustakan ? Di dalam kedua surga itu ada segala
macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (Q.S. Ar-Rahman: 46-52)
Ayat-ayat yang lainnya yang
menerangkan keadaan surga sangat banyak. Ada beberapa ayat yang menerangkan
wanita-wanita surga. Di antaranya :
"Di dalam surga itu ada
bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, yang tidak pernah disentuh
oleh manusia sebelum mereka ataupun oleh jin. Maka nikmat Allah yang
manalagikah yang akan kalian dustakan ? Seakan-akan mereka itu permata yakut
dan marjan." (Q.S. Ar- Rahman: 56-58)
"Bidadari-bidadari yang
cantik, putih bersih, dan terpelihara dalam kemah." (Q.S. Ar- Rahman:
72)
"Dan di dalam surga itu
ada bidadari-bidadari yang bermata jeli. Seperti mutiara yang tersimpan baik.
Sebagai balasan dari apa yang mereka lakukan." (QS.Ar-Rahman: 22-24)
Selain itu ada pula
hadits-hadits dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam tentang keadaan
wanita-wanita surga dan bahwa mereka disediakan pada hari kiamat untuk
orang-orang yang bertaqwa. Di antaranya adalah hadits Abu Hurairoh Radhiyallahu
'Anhu dia berkata : "Telah berkata Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam:
"Sesungguhnya rombongan
pertama yang masuk surga tak ubahnya seperti bulan pada malam purnama, kemudian
orang-orang setelah mereka laksana bintang yang paling terang cahayanya di
langit. Mereka tidak kencing, tidak buang hajat, tidak meludah, dan tidak
beringus. Sisir-sisir mereka dari emas dan aroma mereka seperti minyak kasturi.
Isteri-isteri mereka adalah bidadari. Bentuk mereka sama seperti bentuk
bapak-bapak mereka yaitu Adam yang tingginya 60 (enam puluh hasta)." (Shahih
Al Jami' 2015)
Dari Rasul Shalallahu 'Alaihi
Wassalam, beliau berkata:
"Kemah (di surga) adalah
mutiara yang tingginya 60 mil. Di setiap sudutnya ada isteri bagi seorang
mukmin dan mereka tidak bisa dilihat oleh orang lain." (Shahih Al
Jami'3357)
Hadits-hadits tersebut
menerangkan tentang wanita-wanita surga yang disediakan untuk para laki-laki.
Dan Allah telah menamai mereka di dalam kitab-Nya dengan sebutan Al-huur
(bidadari). Al-Huur jamaknya adalah Hauraa. Imam Al Qurthubi berkata di dalam
kitab Al-Ahkam (17/122): "Mereka (bidadari) itu bagian putih matanya
sangat putih dan bagian hitamnya sangat hitam, maka kita mengimani hal itu
dengan keimanan yang mutlak yang tidak ditembus oleh keraguan ataupun
kesangsian dan hal ini tertancap di inti aqidah kita."
Untuk keterangan yang lebih jelas silakan merujuk kepada Shahih Bukhari, kitab
bad'ul khalqi, bab sifat al jannah, dan Shahih Muslim, bab sifat al jannah,
demikian pula kitab Sifat Al-Jannah susunan Abu Nu'aim Al Ashfahani tentang
sifat wanita ahli surga dan kecantikannya.
Adapun pertanyaan bahwa Islam
memotivasi dan memberi kabar gembira dengan sesuatu di surga padahal hal itu
diharamkan di dunia seperti hubungan antara laki-laki dengan wanita di luar
nikah, maka sebelum dijawab ada baiknya kita memperhatikan hal yang penting,
yaitu bahwa Allah Ta'ala mengharamkan sesuatu sekehendak-Nya di dunia ini
kepada para penghuninya. Dia adalah mencipta dan Pemilik segela sesuatu, maka
tidak boleh bagi seorangpun memprotes terhadap hukum Allah Ta'ala dengan ra'yu
(pikiran) dan pemahamannya yang terbalik, maka kepunyaan Allahlah hukum dan
urusan sebelum dan sesudahnya.
Adapun masalah pengharaman
Allah Ta'ala terhadap beberapa perkara di dunia kemudian Dia memberi balasan
dengan hal itu pula bagi orang yang meninggalkan hal itu di akhirat, seperti
khamr, zina, memakai sutera bagi laki-laki, dan seterusnya, maka hal ini
merupakan kehendak Allah dalam memberi balasan kepada orang yang mentaatinya,
bersabar, dan memerangi hawa nafsu dirinya di dunia.
Allah Ta'ala berfirman :
"Tidak ada balasan bagi
kebaikan kecuali kebaikan pula.." (Q.S. Ar Rahman : 60)
Adapun tentang sebab-sebab
pengharaman, maka berikut ini ada beberapa point penting :
Pertama : Tidaklah penting bagi
kita mengetahui semua sebab pengharaman. Karena ada beberapa sebab yang
kadang-kadang tidak kita ketahui. Dan yang pokok adalah berpegang kepada
nash-nash tersebut secara tunduk sekalipun kita tidak tahu sebabnya karena
sikap tunduk merupakan tuntutan Islam yang dibangun di atas ketaatan yang
sempurna karena Allah Ta'ala .
Kedua : Kadang-kadang nampak
bagi kita beberapa sebab pengharaman ,seperti kerusakan-kerusakan yang
ditimbulkan akibat zina berupa tidak jelasnya keturunan, tersebarnya penyakit
kelamin, dan yang lainnya. Maka ketika syariat melarang hubungan yang tidak
disyariatkan, maka itu maksudnya untuk memelihara kejelasan keturunan dan
menghindarkan penyakit, dan hal-hal yang kadang-kadang tidak dimengerti
sedikitpun oleh orang-orang kafir dan durhaka sehingga mereka melakukan
hubungan seksual seperti keledai. Seorang lelaki menyetubuhi kawan wanitanya,
atau seseorang bersetubuh dengan kerabatnya, demikianlah seterusnya seolah-olah
mereka itu kelompok binatang, bahkan sebagian binatangpun enggan melakukan hal
itu, sedangkan mereka tidak enggan dan tidak peduli akan hal itu, maka jadilah
masyarakat yang melakukan hal itu menjadi kumpulan orang yang bebas terlepas
dari ikatan, yang penuh dengan penyakit kelamin sebagai wujud murka Allah bagi
orang-orang yang melanggar hal yang diharamkannya dan membolehkan apa yang
dilarangnya..
Hal ini berbeda sekali dengan
hubungan antara seorang laki-laki dengan bidadari di surga -dan inilah yang
Anda tanyakan-. Maka hal yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang wanita
pelacur di dunia adalah seorang wanita yang hilang harga dirinya, sedikit iman
dan rasa malunya dan tidak terikat dengan hubungan syar'i yang tetap dengan
seseorang yang dilandasi akad yang benar, maka jadilah seorang laki-laki
menyetubuhi wanita yang diinginkannya, dan seorang wanita bersetubuh dengan
lelaki yang dikehendakinya tanpa aturan agama ataupun akhlaq. Adapun bidadari
di surga maka mereka terkhususkan untuk suami-suami mereka orang-orang yang
diberi balasan oleh Allah dengan diberi bidadari-bidadari itu karena kesabaran
mereka dalam menahan diri dari yang haram ketika di dunia, sebagaimana firman
Allah Ta'ala :
"Bidadari-bidadari yang
terpelihara di dalam kemah-kemah."
Dan firman-Nya pada ayat lain
tentang bidadari-bidadari itu:
"Mereka tidak pernah
disentuh oleh seorang manusiapun sebelum mereka ataupun oleh jin."
Dan mereka adalah isteri bagi
penghuni surga, sebagaimana firman Allah :
"Dan Kami nikahkan mereka
dengan bidadari-bidadari."
Dan mereka terkhususkan hanya
untuk suami mereka dan tidak untuk yang lainnya.
Ketiga : Sesungguhnya Allah
Ta'ala yang mensyariatkan bagi laki-laki di dunia agar tidak mempunyai lebih
dari empat isteri dalam satu waktu, Dia pulalah yang memberi nikmat kepada
penghuni surga dengan bidadari yang diinginkannya, maka tidak ada pertentangan
antara pengharaman di dunia dengan penghalalan di akhirat karena hukum kedua
tempat itu berbeda sesuai dengan yang dikehendaki Allah Ta'ala, dan tidaklah
diragukan lagi bahwa akhirat lebih baik, lebih utama, dan lebih kekal dari pada
dunia. Allah Ta'ala berfirman:
"Telah dihiasi bagi
manusia kecintaan kepada syahwat wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa
emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah ada tempat kembali yang baik.
Katakanlah: 'Maukah aku kabarkan kepada kalian apa yang lebih baik dari hal itu
? Untuk orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb mereka yaitu surga yang banyak
mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selamanya .Dan ada
isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat
terhadap hamba-hamba-Nya." (Q.S. Ali Imran: 14-15).
Keempat : Sesungguhnya
pengharaman ini kadang-kadang merupakan ujian dari Allah Ta'ala bagi
hamba-hamba-Nya, apakah mereka melaksanakan perintah dan menjauhi larangan atau
tidak. Dan ujian tidaklah berupa sesuatu yang tidak diinginkan dan tidak
disukai jiwa, tetapi ujian akan berupa sesuatu yang diinginkan oleh jiwa
sehingga jiwa akan selalu terkait dan tertarik kepadanya. Di antaranya adalah
ujian dengan harta, apakah seorang hamba akan mengambil yang halal dan
menggunakannya dengan cara yang halal pula serta menunaikan hak Allah di
dalamnya ? Ujian dengan wanita, apakah dia akan membatasi dengan hal yang
dihalalkan oleh Allah, menundukkan pandangan, dan menjauhi hal yang Allah
haramkan dari wanita ? Dan di antara rahmat Allah Ta'ala bahwa Dia tidaklah
mengharamkan sesuatu yang diinginkan oleh jiwa kecuali Diapun menghalalkan
hal-hal yang halal yang sejenis dengan yang diharamkan tadi.
Kelima : Sesungguhnya
hukum-hukum yang berlaku di dunia tidaklah seperti hukum di akhirat. Khamr di
dunia bisa menyebabkan hilang akal berbeda dengan khamr di akhirat yang baik
yang tidak menyebabkan hilang akal dan tidak menimbulkan pening di kepala serta
tidak membuat kembung di perut. Demikian pula wanita-wanita yang disediakan
pada hari kiamat untuk orang mukmin sebagai balasan atas ketaatan mereka,
tidaklah seperti pezina yang membuat terkoyaknya kehormatan, tidak jelasnya
keturunan serta menyebarnya penyakit kelamin yang berakhir dengan penyesalan.
Wanita-wanita surga adalah wanita-wanita yang suci, baik, tidak akan mati, dan
tidak akan tua. Berbeda dengan wanita-wanita di dunia.
Allah berfirman :
"Sesungguhnya Kami
menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka
gadis-gadis yang perawan penuh cinta kasih dan sepadan." (Q.S. Al
Waqi'ah: 35-37).
Kita memohon kepada Allah
semoga Dia merizkikan kepada kita kebaikan di dunia dan di akhirat dan
merizkikan ketaatan kepada kita dalam melaksanakan perintah-Nya dan yakin
terhadap pahala-Nya serta meraih pahala-Nya juga aman dari siksa-Nya. Wallahu
A'lam.


Comments
Post a Comment