Pertanyaan:
Saya adalah seorang pelajar sekolah lanjutan. Saya
cinta kepada agama dan tekun beribadah. Tetapi saya
menghadapi suatu kendala, yaitu mudah
terangsang bila melihat pemandangan yang
membangkitkan syahwat, dan hampir-hampir saya tidak dapat menguasai diri
dalam hal ini. Keadaan ini membuat saya repot
karena harus sering mandi dan mencuci pakaian dalam.
Bagaimana saran Ustadz untuk memecahkan
problematika ini sehingga saya dapat memelihara agama dan
ibadah saya dengan baik?
Jawaban:
Pertama, saya berdoa semoga Allah memberi berkah
kepada Anda, pemuda yang begitu besar perhatiannya terhadap agama
yang lurus ini, dan saya minta kepada Anda agar senantiasa
berpegang teguh dengannya dan tetap antusias kepadanya, jauh dari teman-teman
yang jelek perilakunya, serta senantiasa menjaga
agama dari gelombang materialisme dan kebebasan, yang telah
banyak merusak pemuda-pemuda dan remaja-remaja kita.
Juga saya sampaikan kabar gembira kepada Anda bahwa Anda bisa
termasuk anggota tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah pada hari tidak
ada lagi naunngan selain naungan-Nya, selama Anda taat kepada-Nya.
Kedua, saya nasihatkan kepada
saudara penanya agar memeriksakan
diri kepada dokter spesialis, barangkali problema
yang dihadapi itu semata-mata berkaitan dengam
suatu organ tubuh tertentu, dan para dokter ahli tentunya
memiliki obat untuk penyakit seperti ini. Allah berfirman:
"..maka bertanyalah kepada
orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."(AnNahl:43)
Rasulullahsaw.bersabda :
"Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan Ia juga
menurunkan obat untuknya." (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
Ketiga, saya nasihatkan juga kepada Anda agar menjauhi
sekuat mungkin - segala hal yang
dapat membangkitkan syahwatnya dan
menjadikannya menanggung beban serta
kesulitan (mandi dan sebagainya). Adalah suatu
kewajiban bagi setiap mukmin untuk tidak
menempatkan dirinya di tempat-tempat yang dapat menimbulkan
kesukaran bagi dirinya dan menutup semua pintu tempat
berhembusnya angin fitnah atas diri dan agamanya. Simaklah
kata-kata hikmah berikut:
"Orang berakal itu bukanlah orang yang pandai mencari-cari
alasan untuk membenarkan kejelekannya setelah
terjatuh kedalamnya, tetapi orang berakal ialah orang
yang pandai menyiasati kejelekan agar tidak terjatuh ke dalamnya."
Diantara tanda orang salih ialah menjauhi perkara-perkara
yang syubhat sehingga tidak terjatuh ke dalam perkara yang haram,
bahkan menjauhi sebagian yang halal sehingga tidak terjatuh
kedalam yang syubhat. Rasulullah saw. Bersabda:
"Tidaklah seorang hamba mencapai derajat muttaqin
(orang yang takwa) sehingga ia meninggalkan sesuatu
yang tidak terlarang karena khawatir terjatuh pada yang terlarang."
(HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim dari
Athiyyah as-Sa'di dengan sanad sahih)
Keempat, setiap yang keluar dari tubuh manusia -
karena melihat pemandangan-pemandangan yang merangsang
- belum tentu mani (yang hukumnya wajib mandi jika ia keluar). Boleh jadi
yang keluar itu adalah madzi, yaitu cairan
putih, jernih, dan rekat, yang keluar ketika sedang bercumbu, atau
melihat sesuatu yang merangsang, atau
ketika sedang mengkhayalkan hubungan
seksual. Keluarnya madzi tidak disertai syahwat
yang kuat, tidak memancar, dan tidak diahkiri
dengan kelesuan (loyo, letih), bahkan kadang-kadang keluarnya tidak terasa. Madzi
ini hukumnya seperti hukum kencing, yaitu
membatalkan wudhu (dan najis) tetapi tidak mewajibkan mandi. Bahkan
Rasulullah saw. memberi keringanan untuk menyiram pakaian
yang terkena madzi itu, tidak harus mencucinya.
Diriwayatkan dari Sahl bin Hanif, ia berkata, "Saya merasa
melarat dan payah karena sering
mengeluarkan madzi dan mandi, lalu saya adukan hal itu
kepada Rasulullah saw., kemudian beliau
bersabda, 'Untuk itu, cukuplah engkau berwudhu.' Saya
bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana dengan yang mengenai
pakaian saya? Beliau menjawab, 'Cukuplah engkau
mengambil air setapak tangan, lalu engkau siramkan pada
pakaian yang terkena itu.'" (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi.
Beliau berkata, hasan sahih)
Menyiram pakaian (pada bagian yang terkena madzi) ini lebih mudah
daripada mencucinya, dan ini merupakan keringanan serta
kemudahan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya dalam
kondisi seperti ini yang sekiranya akan menjadikan melarat jika
harus mandi berulang-ulang. Maha Benar Allah Yang Maha Agung yang telah
berfirman:
"... Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak
membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya
bagimu, supaya kamu bersyukur." (Al-Maa'idah: 6)
Wallahu a'lam.
Comments
Post a Comment